Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 58778 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Diah Kuswardhani
"Seiring dengan semakin banyaknya produk reksa dana yang ditawarkan, maka reputasi pengelola reksa dana atau manajer investasi menjadi faktor yang sangat penting. Akan tetapi, reksa dana yang dikelola oleh manajer investasi yang berkualitas dan berpengalaman belum tentu mampu memberikan return yang memuaskan bila dibandingkan dengan tingkat risiko yang dihadapi oleh investor dan return pasar. Oleh karena itu, diperlukan analisis terhadap reksa dana yang dikelola oleh manajer investasi tersebut, yang dalam hal ini adalah PT. Manulife Aset Manajemen Indonesia.
Tesis ini membahas analisis return reksa dana saham dengan metode Capital Asset Pricing Model dan Arbitrage Pricing Theory, evaluasi kinerja reksa dana saham dengan metode Risk Adjusted Performance (Indeks Sharpe, Treynor, Jensen, Information Ratio), dan analisis 5 besar emiten yang membentuk portofolio reksa dana saham dengan matriks Growth Value Map.
Hasil penelitian menunjukkan pengaruh portofolio pasar dan faktor-faktor makroekonomi terhadap return reksa dana saham, kinerja reksa dana saham dibandingkan dengan kinerja portofolio pasar, serta ekspektasi pasar terhadap kinerja jangka pendek dan prospek pertumbuhan jangka panjang dari 5 besar emiten yang membentuk portofolio reksa dana saham.

Along with the increasing number of mutual funds offered, the reputation of mutual fund managers or investment managers becomes a very important factor. However, mutual funds managed by qualified and experienced investment managers do not certainly offer satisfying return compared with the risk faced by investors and market return. Therefore, it is necessary to analyze mutual fund managed by investment manager, which is PT. Manulife Aset Manajemen Indonesia.
This thesis analyzes the return of equity fund using Capital Asset Pricing Model dan Arbitrage Pricing Theory method, performance evaluation of equity fund using Risk Adjusted Performance method (Sharpe, Treynor, Jensen Index, Information Ratio), and analysis of the top five companies that form equity fund portfolio using Growth Value Map.
The result of the study shows the influence of market portfolio and macroeconomic factors to the return of equity fund, performance of equity fund compared with performance of market portfolio, as well as market expectation of short-term performance and long-term growth opportunity of the top five companies that form equity fund portfolio.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2009
T26511
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dwiyanda
"Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan bursa luar negeri adalah alternatif untuk memperluas kepemilikan saham oleh investor dalam dan luar negeri dan dalam rangka mendekatkan diri dengan para investor yang belum mengenal perusahaan tersebut sebelumnya. Di antaranya adalah PT Indosat dan PT Telkom yang dual listing di BEJ dan New York Stock Exchange (NYSE).
Tujuan penelitian ini adalah menjawab pertanyaan berikut : pertama, apakah terdapat korelasi negatif antara imbal hasil (return) saham PT Indosat di BEJ dan di NYSE, dan antara imbal hasil saham PT Telkom di BEJ dan di NYSE ? Apabila terdapat korelasi negatif, maka dapat dibentuk suatu portofolio optimum. Kedua, adakah keuntungan arbitrase atas investasi saham-saham yang melakukan dual listing di BEJ dan NYSE akibat adanya perubahan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap dolar Amerika ? Ketiga, faktor-faktor apa yang menentukan imbal hasil (return) saham-saham yang dual listing di BEJ dan NYSE ?
Hubungan antara imbal hasil saham yang dual listing seperti saham PT Indosat dan PT Telkom di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan New York Stock Exchange (NYSE) dapat diamati melalui koefisien korelasi. Untuk menghitung koefisien korelasi digunakan rumus : pjj = a^ I (cjj x aj).
Imbal hasil saham atau return yang diharapkan sangatlah bervariasi tergantung dengan risiko pasar dan faktor-faktor lain di luar pasar. Hubungan antara imbal hasil sekuritas dengan risiko dapat diamati melalui analisis terhadap koefisien beta sekuritas dengan menggunakan metode Capital Asset Pricing Model (CAPM) dengan pendekatan Security Market Line (SML). Koefisien beta (P) dapat dihitung dengan persamaan : (3j = <7j pjm / om = °~im / O m.
Sehubungan dengan fluktuasi nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika, maka perdagangan saham perusahaan yang dual listing sangatlah rentan terhadap kemungkinan transaksi arbitrase. Kemungkinan terjadinya transaksi arbitrase atas saham-saham yang dual listing tersebut, dapat diamati dengan menggunakan International Fisher Effect, yaitu : (l+rH)/(l+rF) =e,/e0.
Selain ditentukan oleh risiko pasar, imbal hasil saham juga ditentukan oleh faktor-faktor di luar pasar. Metode pendekatan ini adalah Arbitrage Pricing Theory (APT). Melalui model dengan 3 faktor, yaitu Faktor T-Bills, Faktor Certificate of Deposit dan Faktor Perubahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika, diamati signifikansinya dalam menentukan imbal hasil suatu sekuritas. Model APT dengan 3 faktor dirumuskan sebagai berikut: E(r) = a + Pi-Bills F(T-Bills) + PuS-CD F(US-CD) + PRp-sF(Rp-S)-
Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diambil dari PT Indosat, PT Telkom, Bursa Efek Jakarta, Bursa NYSE, Bank Indonesia dan Federal Reserve Amerika Serikat. Data yang diamati merupakan data historis yang dikumpulkan dari tahun 1997 sampai 2001. Data pengamatan merupakan data bulanan, yaitu data periode awal dan akhir bulan serta data pada bulan yang bersangkutan.
Hasil penelitian memberikan gambaran, pertama, tidak adanya korelasi negatif antara imbal hasil saham yang listing di BEJ dan yang listing di NYSE. Kedua, dimungkinkan terjadinya keuntungan arbitrase atas investasi saham-saham yang dual listing di BEJ dan NYSE akibat adanya fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika. Ketiga, faktor-faktor T-Bills, Certificate of Deposit (CD) dan perubahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika sangat menentukan imbal hasil saham yang dual listing baik di BEJ maupun di NYSE dalam Model APT dengan 3 faktor."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2002
T1347
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Oksi Pancaseana
"Hubungan risiko dan imbal basil di Bursa Saham dapat dijelaskan antara lain melalui teori CAPM (Capital Asset Pricing Model). Teori CAPM mengemukakan mengenai pengukuran risiko dan imbal hasil yang relevan, serta bagaimana hubungan antara keduanya apabila pasar modal dalam keadaan seimbang. Hal tersebut telah dijelaskan pula dengan teori portfolio yang dikemukakan oleh Markowitz (1952) yang menyebutkan bahwa investor akan mendapatkan imbal basil terbaik dengan risiko yang diharapkan jika is melakukan diversifikasi dalam memilih portfolio yang optimal.
Bukti empiris mengenai CAPM, telah dijelaskan melalui penelitian Fama dan Macbeth (1973) yang diantaranya mengemukakan hipotesa bahwa hubungan antara risiko dengan imbal basil bersifat linear, tidak ada efek sistematik dari risiko non-beta, terdapat positif expected return-risk tradeoff, dan koefisien titik potong atau intercept dalam regresi market model, sama atau lebih tinggi dibanding risk free rate.
Penelitian ini membahas mengenai: (1) Karakteristik beta saham dan portfolio di Bursa Efek Jakarta, (2) Identifkasi model spesifikasi jurnal empiris CAPM versi Fama Macbeth (1973) dengan melihat hubungan sensitifitas antara imbal hasil saham dengan indeks pasar di BEJ, (3) Perbedaan ciri khas antara portfolio saham aktif dan saham tidak aktif menurut top frekuensi transaksi, (4) Teknik estimasi regresi dua langkah, dan (5) Penentuan ekuilibrium antara risiko dan imbal hasil. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 80 (delapan puluh) sampel emiten di BEJ yang terdiri dari 40 saham teraktif dan 40 saham tidak aktif selama periode tahun 2001 sampai dengan tahun 2002. Sampel dipilih berdasarkan metode purposive quota sampling dan menggunakan metode analisa regresi cross section dan time series.
Hasil penelitian menemukan bahwa: (1) Risiko saham yang diukur dengan menggunakan proksi beta saham berpengaruh pada tingkat imbal hasil, (2) Balk pada portfolio saham aktif maupun tidak aktif terdapat hubungan linear antara risiko dan imbal hasil, (3) Pada portfolio saham aktif, tidak ada efek sistematik lain yang signifikan selain risiko beta, begitu pula pada portfolio saham tidak aktif, (4) Positif premium risiko tidak ditemui balk pada portfolio saham aktif maupun saham tidak aktif, dan (5) Portfolio saham dengan nilai beta sama dengan nol mcmpunyai imbal hasil yang lebih rendah daripada imbal hasil aset tanpa risiko SBI untuk portfolio saham aktif dan tidak aktif.
Temuan ini menunjukkan bahwa risiko dan imbal basil bersifat linear dengan tidak adanya pengaruh risiko. sistematik lain dan premium risiko yang positif, investasi pada tahap ini mmbutuhkan suatu periode- jangka panjang untuk mendapatkan keuntungan yang meningkat stabil. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa teori CAPM berlaku untuk investor dengan tujuan rentang waktu jangka panjang. Temuan ini sejalan dengan teori CAPM versi Fama dan MacBeth (1973) bahwa risiko clan imbal basil bersifat linear, tidak ada efek sistematik lain selain beta. Keliadaan efek sistematik lain itu jugs sejalan dengan teori portfolio Markowitz (1952) bahwa efek sistematik akan diperkecil jika saham disatukan dalam portfolio. Namun, temuan mengenai postif premium risiko dan zero beta portfolio tidak sejalan dengan teori CAPM, mungkin dikarenakan perbedaan keadaan antara pasar modal di BEJ dengan di NYSE."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2003
T20555
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Naibaho, Okthaleon
"Setiap perusahaan membutuhkan modal untuk bisa menjalankan kegiatan operasinya, sama halnya dengan PT. X, perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi di Indonesia. Saat ini perusahaan memiliki struktur modal 49,58% utang dan 50,42% modal sendiri. Semakin tinggi tingkat utang akan meningkatkan kemungkinan perusahaan mengalami kebangkrutan. Struktur modal yang optimal akan menghasilkan nilai perusahaan yang paling tinggi dan menimbulkan biaya yang paling rendah. Nilai perusahaan tertinggi berada di komposisi utang 30%. Biaya modal (WACC) yang paling rendah yaitu 11,04% berada di komposisi utang 40%. Berdasarkan perhitungan tersebut, struktur modal yang optimal untuk PT. X berada pada komposisi utang antara 30%-40%.

Every company needs capital to run its operations, so does PT. X, a company which operates in construction industry in Indonesia. At present, the capital structure of the company is composed by 49,58% debt and 50,42% equity. The higher the level of debt the company will increase the risk of bankruptcy. The optimal capital structure will maximize the value of the firm and minimize the cost of capital. The maximum value of the firm is reached when the debt ratio is 30%.The minimum cost of capital (WACC) which is 11,04% is reached at 40% debt ratio. Based on that calculation, the optimal capital structure of PT. X can be reach between 30% and 40% in debt ratio.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2012
T30288
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Lia Putri Efriliani
"Penelitian ini merupakan pengujian empiris dari pengaruh beta likuiditas terhadap excess return saham dengan Liquidity-adjusted Capital Asset Pricing Model LCAPM pada saham terdaftar di Bursa Efek Indonesia BEI. Dengan menggunakan penghitungan ilikuiditas illiq , penelitian ini menemukan bukti empiris bahwa terdapat risiko ilikuiditas yang dilambangkan dengan pergerakan ilikuiditas saham dengan ilikuiditas pasar, sensitivitas ilikuiditas saham dengan return pasar, serta beta likuiditas secara agregat di pasar saham Indonesia. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa pergerakan ilikuiditas saham terhadap ilikuiditas pasar memberikan pengaruh positif terhadap excess return saham. Begitu pula risiko likuditas secara agregat yang berpengaruh terhadap excess return saham. Sebaliknya, sensitivitas ilikuiditas saham terhadap return pasar memberikan pengaruh negatif terhadap excess return saham. Secara garis besar, penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Lee 2011 dan Vu, et al 2014 , bahwa risiko ilikuiditas dapat mempengaruhi tingkat pengembalian saham.

This paper empirically tests the Liquidity adjusted Capital Asset Pricing Model LCAPM and effect of liquidity beta on stock excess return of listed corporation in Indonesia. According to the illiquidity measure used, I find evidence that liquidity risk, in the form of co movement between individual stock illiquidity and market illiquidity, sensitivity between its illiquidity and market returns, and net liquidity beta are priced in Indonesian stock market. This results show that co movement between individual stock illiquidity and market illiquidity as well as net liquidity beta has positive effect on stock excess return in Indonesia, while illiquidity sensitivity to market returns brings negative effect on stock excess return in Indonesia. Overall, this results support the importance of liquidity risk effects on stock return. Lee, 2011 Vu, et al 2014. "
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2017
S66287
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rika Fiola
"ABSTRACT
Berbagai penelitian terhadap faktor-faktor yang menentukan return dan resiko
telah banyak dilakukan. Capital Asset Pricing Model yang dikembangkan oleh Sharpe
(1964), Lintner (1965) dan Black (1972) telah lama membentuk cara pikir para praktisi
dan akademisi tentang return dan resiko. CAPM menjelaskan bahwa return yang
diharapkan dari suatu sekuritas merupakan suatu fungsi yang positif dan beta pasar dan
beta mampu menjelaskan return suatu sekuritas.
Akan tetapi, terdapat beberapa kontradiksi terhadap model Sharpe-Lintner-Black
ini. Beberapa hasil-hasil penelitian yang dilakukan sehubungan dengan return dan resiko
menunjukkan hasil yang berbeda. Banz (1981) menemukan bahwa market equity
berpengaruh juga terhadap return. Return dan perusahaan kecil lebih tinggi dan beta
estimasi dan return dari perusahaan besar lebih rendah dan beta estimasi.
Penelitian yang dilakukan oleh Fama dan MacBeth (1973) menemukan bahwa
ukuran perusahaan, beta, book-to-market equity, book asset to market equity serta book
asset to book equity mampu menjelaskan rata-rata return saham. Stattman (1980) dan
Rosenberg, Reid dan Lanstein (1985) menemukan bahwa return mempunyai hubungan
positif dengan rasio antara book value dan market value pada saham-saham Amerika.
Kemudian, Cahn, Hamao dan Lakonishok (1991) menemukan terdapatnya suatu
hubungan yang kuat antara hook-to-market equity dengan return pada saham-saham
Jepang Selain itu, hasil penelitian Fama dan French (1992) juga mernmjukkan hasil yang
sama.
Penelitian yang dilakukan pada karya akhir ini bertujuan untuk melihat sejauh
mana variabel beta, size, book-to-market equity, book asset to market equity dan hook
asset to book equity dapat menjelaskan cross-sectionaI rata-rata return saham di
Indonesia, khususnya pada saham-saham LQ 45. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah multiple regression, dimana return dijadikan variabel dependen
sedangkan beta, size, book-to-market equity, book asset lo market equity dan book asset
to book equity digunakan sebagai variabel independen.
Dalam penelitian ini, sampel yang dipilih adalah sebanyak 36 perusahaan yang
paling sering muncul di LQ 45 seLama periode 1997 sampai dengan 2001, merupakan non
financial firm, dan tidak pernah mengalami negatif equity. Semua data disusun menjadi
portofolio-portofolio berdasarkan urutan nilai variabel-variabel bebas untuk kemudian
diolah dengan menggunakan Software SPPS Student Version 10.0 for Windows.
Hasil pengujian regresi return terhadap variabel beta saja ternyata
memperlihatkan bahwa beta mampu menjelaskan average return. Sedangkan pada saat
regresi dilakukan terhadap efek size saja, hasil regresi menunjukkan size tidak signifikan
dalam menjelaskan return. Ketika dilakukan regresi return secara bersamaan antara size
dan beta, terlíhat babwa size tetap tidak signifikan. Namun, konsisten dengan hasìl regresi
sebelumnya, variabel beta sangat signifikan dalam menjelaskan rata-rata return.
Pengujian regresi return terhadap book-to-market equity saja menghasiikan
kesimpulan bahwa vanabel In(BE/ME) ini tidak signifikan. Selanjutnya jika regresi
dilakukan secara bersamaan antara size dan book-to-market equity, terlihat bahwa
variabel size dan book-to-market equity tidak relevan dalam menjelaskan average return.
Selanjutnya, pengujian regresi return yang dilakukan terhadap book asset to
market equity saja, diperoleh bahwa hook asset to market equity juga tidak signifikan.
Demikian juga halnya pada saat variabel ln(ME) maupun In(A/ME) diregresikan secara
bersamaan, maka hasil yang diperoleh adalah bahwa kedua variabel tersebut tidak relevan
dalam menjelaskan rata-rata return.
Tidak berbeda dengan pengujian variabel leverage ln(A/ME) sebelumnya,
variabel leverage book asset to book equity, ln(A/BE) juga tidak signifikansi dalam
menjelaskan return. Hal yang sama juga terjadi pada saat variabeL In(A/BE) diregresikan
secara bersamaan dengan size, maka terlihat ketika kedua variabel bebas tersebut tidak
dapat menerangkan perilaku rata-rata return saham.
Setelah dilakukan pengujian regresi return terhadap semua variabel independen,
yang terlihat memberikan kontribusi yang signifikan dalam menjelaskan cross-sectional
rata-rata return hanyalah beta Sedangkan variabel indepeden lainnya (size, book-
market equity, book asset to market equity dan book asset to book equity) tidak mampu
menjelaskan rata-rata return saham. Secara bersamaan semua variabel bebas tersebut
mampu menjelaskan rata-rata return sebesar 83,9%.
Perbedaan yang terjadi antara hasil penelitian pada karya akhir ini dengan hasil
hasil penelitian yang dilakukan oleh Fama dan MacBeth (1973), Fama dan French (1992)
kemungkinan diakíbatkan oleh kondisi pasar yang berbeda, selain itu, periode penetitian
Yang dilakukan adalah pada saat dimana Indonesia mengalami krisis ekonomi sehingga
terdapat suatu ketidakstabilan dalam pasar di Indonesia."
2002
T1892
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Utami Ambarwati
"Dengan adanya gejolak ekonomi yang terjadi beberapa tahun belakangan ini membuat kondisi perekonomian Indonesia terpuruk. Tetapi saat ini sudah mulai menunjukkan adanya tanda-tanda pemulihan ekonomi. Hal ini dapat dilihat perkembangan pasar modal Indonesia menunjukkan suatu perkembangan yang baik dan mulai kembali aktif. Selain itu banyak cara berinvestasi untuk meningkatkan nilai uang yang dimiliki. Banyak para ahli yang menuliskan hasil pemikirannya ke dalam buku-buku untuk mengajarkan bagaimana cara berinvestasi. Ada deposito, saham, obligasi, kurs, bahkan asuransi dan instrumen lainnya yang menawarkan banyak keuntungan.
Sebagaian masyarakat sadar bahwa dana yang mereka miliki dari waktu ke waktu nilainya akan berkurang apabila tidak dimanfaatkan atau dibiarkan menganggur. Menentukan tingkat harapan atau expected return dari sebuah sekuritas dapat dilakukan dengan beberapa metode, salah satunya yang cukup populer dengan menggunakan CAPM. Penggunaannya dapat membantu dalam menentukan tingkat pengembalian dari suatu saham. Metode ini memperhitungkan aspek tingkat suku bunga bebas risiko (Suku Bunga SBI) yang berlaku, dimana tingkat pengembalian yang diperoleh sesuai dengan tingkat risiko (diwakilkan dengan beta). Return market yang diwakilkan dengan Indeks LQ45.
Sampel yang digunakan adalah diambil secara acak dari 45 saham perusahaan yang sahamnya masuk dalam perhitungan Indeks LQ 45 periode Januari 2000-Desember 2002, dipilih hanya 10 saham sebagai sampel. Penelitian menggunakan SPSS dalam melakukan regresi terhadap data-data itu, untuk melihat pengaruh risk terhadap return pada saham-saham sampel.
Hasil penelitian terhadap I 0 sampel menunjukkan hasil bahwa ada pengaruh positif linear antara risk dengan return, dimana terdapat tanda positif pada tabel correlations. Hampir sebagian saham tingkat signifikan levelnya diatas 5%, hanya dua saham yang memiliki tingkat signiflkan dibawah 5%. Memang berdasarkan hasil pengujian ada beberapa yang memiliki tingkat signifikan diatas 5% yang berati tidak ada pengaruh positif antara risk dengan return, tetapi secara teori hal itu menunjukkan jelas bahwa antara return dengan risk memiliki pengaruh yang positif linear dimana jika return naik maka risk juga akan naik. Walaupun demikian sulit untuk memprediksi nilai return tahun 2003 karena begitu banyak faktor yang mempengaruhi tingkat return suatu saham dan risiko saham. Faktor perekonomian Indonesia yang sulit diprediksi dan banyak kejadian-kejadian yang mempengaruhi perubahan harga saham secara cepat. Metode CAPM sendiri telah diuji bertahun-tahun dengan menggunakan sampel yang cukup banyak oleh para ahli sehingga hasil pengujian itulah yang dapat diterima sampai saat ini."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2003
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anggit Laras Ardindra
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perubahan modal kerja terhadap nilai perusahaan pada perusahaan yang mengalami kendala keuangan dan perusahaan yang tidak mengalami kendala keuangan yang termasuk pada Industri Barang Konsumsi yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia periode 2011 – 2015. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 64 perusahaan. Penelitian ini menggunakan Fixed Effect Model yang diolah dalam program EViews 9. Variabel yang terkait pada penelitian ini adalah earnings, net assets, interest, dividend, research and development, cash dan net working capital. Dari variabel-variabel tersebut yang memiliki pengaruh pada keseluruhan perusahaan adalah earnings, net assets, dividend, research and development, dan cash. Sementara untuk perusahaan yang mengalami kendala keuangan adalah variabel earnings dan net assets, sedangkan untuk perusahaan yang tidak memiliki kendala keuangan adalah dividend dan cash.

This study aimed to analyze the effects of changes in working capital to the company's value to companies experiencing financial constraints and a company that is not experiencing financial constraints are included in the Consumer Goods Industry and Trade, Service and Investment which is listed on the Indonesia Stock Exchange period 2011 - 2015. The sample used in this study is 64 company. This study uses a Fixed Effect Model that is processed in EViews program 9. The variables associated in this study is the earnings, net assets, interest, dividend, research and development, cash and net working capital. Of the variables that have an influence on the whole enterprise is the earnings, net assets, dividend, research and development, and cash. As for companies experiencing financial constraints are variable earnings and net assets, while for companies that do not have financial constraints is the dividend and cash."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2016
S63211
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sheila Yovita
"[ABSTRAK
Studi ini menguji empiris faktor risiko saham perbankan ASEAN-5
periode 2003 ? 2013. Faktor risiko yang diuji adalah faktor risiko pasar (market),
size dan value melalui model penilaian aset Capital Asset Pricing Model (CAPM)
dan model tiga faktor Fama dan French (1993). Selain tiga faktor standar tersebut
(Schuermann & Stiroh, 2006), faktor risiko tambahan yang diuji adalah faktor
risiko spesifik bank yaitu term structure.
Hasil penelitian menunjukkan faktor risiko pasar, size dan value
menjelaskan excess return yang mengindikasikan terdapat premi risiko pasar, size
premium dan value premium pada saham perbankan ASEAN-5. Faktor risiko term
structure hanya signifikan pada portofolio saham small size-value stocks serta big
size?growth stocks. Nilai koefisien positif menandakan tingkat eksposur terhadap
perubahan tingkat suku bunga yang tidak diduga adalah positif dan
mengindikasikan minimnya penggunaan instrumen derivatif atau hedging dalam
aktifitas bank ASEAN-5.
Lebih lanjut, studi ini juga membandingkan model penilaian aset.
Menggunakan pedoman adjusted-R2, model tiga faktor Fama dan French memiliki
kemampuan lebih baik dalam menjelaskan excess return saham perbankan
ASEAN-5 dari model Capital Asset Pricing Model (CAPM). Pada portofolio
small size?value stocks dan big size?growth stocks, penambahan faktor risiko
term structure tidak menjadikan model tiga faktor Fama dan French lebih baik
dalam menjelaskan excess return saham perbankan ASEAN-5. Hasil studi ini
serupa dengan penelitian Fama dan French bahwa faktor risiko term structure
tidak menjelaskan lebih baik saham perbankan dibandingkan dengan model tiga
faktor Fama dan French.;This study tested empirically risk factors on banking stocks in ASEAN-5.

ABSTRACT
The risk factors are market, size and value risk factors by using asset pricing
model of Capital Asset Pricing Model (CAPM) and three factor Fama and French
(1993) model. As additional risk factor is bank-specific risk factor, the term
structure.
The result showed market, size and value risk factors explain excess
return, indicating there are market risk premium, size and value premium on
banking stocks in ASEAN-5. Term structure factor is significant only on small
size-value stocks and big size-growth stocks portfolios. Positive factor loadings
on both portfolios showed banks? exposure level to the unexpected interest rate
changes is positive, indicating minimum use of derivative or hedging instruments.
This study also comparing asset pricing models. Based on adjusted-R2
score, three factor model of Fama and French explains better than Capital Asset
Pricing Model (CAPM). Adding bank-specific risk factor, the term structure,
doesn?t help three factor Fama and French model explain better of excess return
on banking stocks in ASEAN-5 for portfolio of small size-value stocks and big
size-growth stocks. The result is similar to Fama and French?s that adding term
structure risk factor doesn?t help to explain excess return better than three factor
model of Fama and French, This study tested empirically risk factors on banking stocks in ASEAN-5.
The risk factors are market, size and value risk factors by using asset pricing
model of Capital Asset Pricing Model (CAPM) and three factor Fama and French
(1993) model. As additional risk factor is bank-specific risk factor, the term
structure.
The result showed market, size and value risk factors explain excess
return, indicating there are market risk premium, size and value premium on
banking stocks in ASEAN-5. Term structure factor is significant only on small
size-value stocks and big size-growth stocks portfolios. Positive factor loadings
on both portfolios showed banks’ exposure level to the unexpected interest rate
changes is positive, indicating minimum use of derivative or hedging instruments.
This study also comparing asset pricing models. Based on adjusted-R2
score, three factor model of Fama and French explains better than Capital Asset
Pricing Model (CAPM). Adding bank-specific risk factor, the term structure,
doesn’t help three factor Fama and French model explain better of excess return
on banking stocks in ASEAN-5 for portfolio of small size-value stocks and big
size-growth stocks. The result is similar to Fama and French’s that adding term
structure risk factor doesn’t help to explain excess return better than three factor
model of Fama and French]"
2015
T27387
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Selna Kholida
"[Model Black-Scholes merupakan model pertama penentuan harga opsi. Terdapat asumsi-asumsi yang harus dipenuhi pada model Black-Scholes, salah satunya volatilitas yang konstan. Karena asumsi tersebut, maka nilai implied volatility berdasarkan model Black-Scholes akan sama untuk setiap harga opsi. Implied volatilty dipengaruhi oleh harga strike dan waktu jatuh tempo. Namun, pada skripsi ini, implied volatility dibatasi pada pengaruh harga strike saja dan hubungan antara implied volatility dengan harga strike diinterpretasikan dalam kurva smile. Bentuk kurva smile berbeda-beda tergantung pada data observasi nilai opsi di pasar dan bentuknya seperti senyum (smile), skew, atau smirk. Dengan mempelajari kurva smile, seorang investor dapat mempertimbangkan risiko berinvestasi opsi. Pada skripsi ini dibahas bagaimana cara menentukan implied volatility Heston yang diinterpretasikan dalam kurva smile. Untuk dapat menentukan implied volatility Heston, diperlukan harga opsi Heston yang disubstitusi ke model harga opsi Black-Scholes. Untuk memperoleh harga opsi Heston, dilakukan penurunan harga opsi saham Heston berdasarkan model pergerakan harga saham Heston. Kemudian, dengan menghitung beberapa nilai implied volatility Heston yang diperoleh dengan menggunakan harga strike yang berbeda, dapat dibentuk kurva smile Heston. Hasil analisis kurva smile dari implied volatility Heston menggunakan data Anglo American Shares dengan selang harga strike dan tingkat bunga bebas risiko yang berbeda serta waktu jatuh tempo yang tetap adalah sebuah kurva smile yang berbentuk smirk.

Black-Scholes model is the first option pricing model. There are some assumptions that need to be satisfied in Black-Scholes model, one of them is the constant volatility. Because of that assumption, implied volatility from Black-Scholes model will be same for all option price. Implied volatility depends on strike price and time to maturity. However, in this skripsi, implied volatility is bounded by strike price only and the relation between implied volatility and strike price is interpreted in smile curve. The shapes of smile curve is vary through observed option price effect and its shape looks like smile, skew, or smirk. With studying smile curve, an investor can consider the risk of investing an option. This skripsi will study how to determine Heston implied volatility which is interpreted in smile curve. Heston option price which is substituted to Black-Schole model is needed to determine Heston implied volatility. For that purpose, deriving Heston option pricing model based on Heston stock price model is needed to be done. Then, by calculating some of implied volatilities that have different strike price, smile curve can be made. The analysis result of Anglo American Shares data with different in Strike Price interval and risk-free rates but same in maturity time (1 year) is a smirk shaped smile curve.;Black-Scholes model is the first option pricing model. There are some assumptions that need to be satisfied in Black-Scholes model, one of them is the constant volatility. Because of that assumption, implied volatility from Black-Scholes model will be same for all option price. Implied volatility depends on strike price and time to maturity. However, in this skripsi, implied volatility is bounded by strike price only and the relation between implied volatility and strike price is interpreted in smile curve. The shapes of smile curve is vary through observed option price effect and its shape looks like smile, skew, or smirk. With studying smile curve, an investor can consider the risk of investing an option. This skripsi will study how to determine Heston implied volatility which is interpreted in smile curve. Heston option price which is substituted to Black-Schole model is needed to determine Heston implied volatility. For that purpose, deriving Heston option pricing model based on Heston stock price model is needed to be done. Then, by calculating some of implied volatilities that have different strike price, smile curve can be made. The analysis result of Anglo American Shares data with different in Strike Price interval and risk-free rates but same in maturity time (1 year) is a smirk shaped smile curve.;Black-Scholes model is the first option pricing model. There are some assumptions that need to be satisfied in Black-Scholes model, one of them is the constant volatility. Because of that assumption, implied volatility from Black-Scholes model will be same for all option price. Implied volatility depends on strike price and time to maturity. However, in this skripsi, implied volatility is bounded by strike price only and the relation between implied volatility and strike price is interpreted in smile curve. The shapes of smile curve is vary through observed option price effect and its shape looks like smile, skew, or smirk. With studying smile curve, an investor can consider the risk of investing an option. This skripsi will study how to determine Heston implied volatility which is interpreted in smile curve. Heston option price which is substituted to Black-Schole model is needed to determine Heston implied volatility. For that purpose, deriving Heston option pricing model based on Heston stock price model is needed to be done. Then, by calculating some of implied volatilities that have different strike price, smile curve can be made. The analysis result of Anglo American Shares data with different in Strike Price interval and risk-free rates but same in maturity time (1 year) is a smirk shaped smile curve., Black-Scholes model is the first option pricing model. There are some assumptions that need to be satisfied in Black-Scholes model, one of them is the constant volatility. Because of that assumption, implied volatility from Black-Scholes model will be same for all option price. Implied volatility depends on strike price and time to maturity. However, in this skripsi, implied volatility is bounded by strike price only and the relation between implied volatility and strike price is interpreted in smile curve. The shapes of smile curve is vary through observed option price effect and its shape looks like smile, skew, or smirk. With studying smile curve, an investor can consider the risk of investing an option. This skripsi will study how to determine Heston implied volatility which is interpreted in smile curve. Heston option price which is substituted to Black-Schole model is needed to determine Heston implied volatility. For that purpose, deriving Heston option pricing model based on Heston stock price model is needed to be done. Then, by calculating some of implied volatilities that have different strike price, smile curve can be made. The analysis result of Anglo American Shares data with different in Strike Price interval and risk-free rates but same in maturity time (1 year) is a smirk shaped smile curve.]"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2014
S57907
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>