Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 90958 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dendy Arif
"Wood Polymer Composite (WPCs) adalah material komposit yang terdiri atas polimer sebagai matriks dan kayu sebagai bahan penguat (reinforcement). WPCs terus menerus dikembangkan dan disempurnakan sifat-sifatnya sebagai building material sehingga dapat dijadikan material alternatif pengganti kayu.
Peneltian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh ukuran bahan pengisi terhadap karakterikstik komposit polipropilena serbuk kayu. Material yang digunakan adalah resin polipropilena dan serbuk kayu karet yang masingmasing bertindak sebagai matriks dan bahan pengisi, dan PPMA (Polipropilena Maleat Anhidrat) sebagai coupling agent. Ukuran serbuk kayu yang digunakan adalah tanpa bahan pengisi, 1410 µm, 100 µm, 365 µm, 250 µm. Proses pembuatan WPCs menggunakan metode palletizing dan injecton molding dengan temperatur sebesar 190°C. Komposit yang dihasilkan diuji untuk menegetahui nilai MFR (Melt Flow Rate), sifat termal (temperatur leleh dan temperatur kristalisasi) sifat mekanis (tensile strength at yield, fleksural, izod impact energy dan kekerasan).
Hasil penelitian menunjukkan semakin kecil ukuran bahan pengisi maka MFR, temperatur melting, temperatur kristalisasi, tensile strength at yield, fleksural, dan kekerasan semakin meningkat. Sebaliknya, cenderung terjadi penurunan nilai izod impact energy dengan semakin kecilnya ukuran bahan pengisi.

Wood Polymer Composite (WPCs) is consisted of two elements that different in nature, polymer as matrix and wood as filler (reinforcement). WPCs have been continually improved in order to get better properties as building material and alternative wood substitute.
The aim is to study the effect of filler size on characteristics WPCs. Resin polypropylene and rubber wood powder are used in this research as a matrix and filler respectively, and PPMA (Polypropylene Maleate Anhydrate is also used as a coupling agent. Filler size that used in this study are without filler, 1410 µm, 100 µm, 365 µm, 250 µm. The process of making PCs through palletizing and injection molding method at temperature 190°C. Then, the composite products are analyzed in order to know the effect properties of this composite such as MFR (Melt Flow rate), thermal properties (melting temperature and crystallization temperature), mechanical properties (tensile strength at yield, flexural, izod impact energy and hardness), fracture type and chemical composition.
The result shows that MFR (Melt Flow rate), thermal properties (melting temperature and crystallization temperature) and mechanical properties (tensile strength at yield, flexural, izod impact energy and hardness) have a tendency to increase as decreasing of filler size. In the other hand, izod impact energy decreased.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S41725
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmat Setiawan Mohar
"Sisa gergajian kayu karet banyak ditemui dan terbengkalai, walaupun sebenarnya masih dapat dimanfaatkan. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memanfaatkannya ialah dengan menggunakannya sebagai pengisi komposit. Sedangkan polipropilena relatif murah dan mudah direkayasa, sehingga kemungkinannya sebagai bahan pengikat dapat dipertimbangkan. Namun, salah satu sifat polipropilena, yakni ketidakcocokannya dengan pengisi serbuk kayu menjadi suatu kendala yang tidak bisa diabaikan. Untuk itu, penelitian ini mengkaji pengaruh penambahan PP-g-MA sebagai zat penggabung system komposit polipropilena - serbuk kayu karet guna meningkatkan kecocokan antara polipropilena dan serbuk kayu.
Resin polipropilena dengan grade Trilene HF8.0CM, 10% berat serbuk kayu karet dengan ukuran 18 mesh, dan zat penggabung PP-g-MA (Licocene PPMA 6452 TP) dicampurkan dengan metode pencampuran kering, kemudian dilanjutkan dengan ekstrusi menggunakan extruder berulir ganda. Kadar zat penggabung 0%, 5%, 10%, dan 15% berat menjadi variabel pada penelitian ini. Pengujian laju alir lelehan, tarik, fleksural, impak, dan kekerasan dilakukan untuk melihat perubahan pada sifat mekanik; analisis differential scanning calometry (DSC) dilakukan untuk melihat perubahan temperatur leleh dan temperatur kristalisasi; dan pengamatan scanning electron microscope (SEM) dilakukan untuk melihat ikatan antarmuka serbuk kayu dan matriks polipropilena.
Penggunaan PP-g-MA sebagai zat penggabung pada sistem komposit polipropilena - serbuk kayu karet telah memberikan hasil yang cukup baik. Dari hasil pengujian DSC, diperoleh kenaikan temperatur kristalisasi pada setiap penambahan PP-g-MA, yang mana kenaikan temperatur kristalisasi ini menunjukkan kenaikan kapasitas nukleasi. Pengujian tarik membuktikan penambahan PP-g-MA pada komposit sampai dengan 10% berat meningkatkan modulus elastisitas secara signifikan. Pengujian fleksural membuktikan penambahan PP-g-MA sampai dengan 5% berat meningkatkan modulus fleksural secara signifikan. Pengamatan SEM pada permukaan patahan komposit dengan penambahan 10% berat dan 15% berat PP-g-MA menunjukkan terjadi pembasahan yang baik pada ikatan antarmuka serbuk kayu dan matriks polipropilena.

Rubber wood sawdust is a readily available substance and often unused, whereas actually it can be useful. One way of making good use of it, is using it as composite fillers. While polypropylene is a relatively cheap and easily modified, such that its possibility as a favourable binding material is worth considering. However, polypropylene is incompatible with rubber wood flour, and a solution has to be found for this problem. Here, we study the effect of adding PP-g-MA as a coupling agent to improve the compatibility between polypropylene and rubber wood flour.
Polypropylene resin of grade Trilene HF8.0CM, 10% wt. rubber wood flour of 18 mesh, and coupling agent PP-g-MA (Licocene PPMA 6452 TP) were blended using the dry blending method, then extruded using double screw extruder. In this study, we observed the effect of coupling agent content of 0%, 5%, 10%, and 15% of weight. Melt flow rate, tensile, flexural, impact, and hardness tests were done to observe changes in mechanical properties; differential scanning calometry analysis was done to observe changes in melting and crystallisation temperatures; and scanning electron microscope (SEM) imaging was performed to observe interfacial bonding of wood flour and polypropylene matrix.
The addition of PP-g-MA as a coupling agent in the polypropylene - rubber wood flour composite system gave quite good results. DSC tests showed an increase in crystallisation temperature with increasing PP-g-MA content, indicating an increase in nucleation capacity. Tensile tests proved that an increase in PP-g-MA content in the composite up to 10% wt. significantly increased modulus of elasticity. Flexural tests proved that an increase of PP-g-MA content up to 5% wt. significantly increased flexure modulus. SEM imaging of the fracture surfaces composite with 10%wt. and 15% wt. PP-g-MA showed good wetting at the interface of wood flour and polypropylene matrix.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S41671
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
B. Kenneth William W.
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1994
S40914
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Himawan Abdillah
"Pada zaman sekarang ini dimana penggunaan energi yang murah, efisien, dan ramah lingkungan sangat diperlukan, maka dikembangkan sel tunam (fuel cells) sebagai sumber energi baru. Kekurangan dari sel tunam konvensional adalah massanya yang berat dan proses manufaktur yang sulit sehingga harga sel tunam itu sendiri menjadi mahal. Sifat ini merupakan kontribusi dari pelat bipolar pada sel tunam tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan pelat bipolar yang ringan, mudah diproses, dan murah.
Dalam penelitian ini dikembangkan komposit pelat bipolar menggunakan matriks polipropilena (PP), penguat karbon, dan aditif polyvinylidene fluoride (PVDF) yang divariasikan komposisinya untuk mendapatkan sifat konduktivitas dan mekanis yang baik.
Sifat-sifat dari komposit yang dihasilkan diuji dengan pengujian mekanis, konduktivitas, dan melt flow indexer. Selain itu, dilakukan juga pengamatan mikrograf dengan menggunakan SEM.
Dari hasil pengujian tersebut, didapatkan bahwa sifat mekanis akan semakin menurun seiring dengan penambahan penguat karbon dalam komposit. Namun, nilai konduktitasnya kecil. Dari keempat formula, didapatkan bahwa nilai mekanis yang paling baik terdapat pada formula dua dengan persentase penguat karbon sebesar 44 % wt. dan sifat konduktivitas terbaik terdapat pada formula tiga dengan 80 % wt. karbon dimana di dalamnya terkandung 25 % wt. grafit.
Dalam penelitian ini belum didapatkan komposisi yang optimal dalam pembagian komposisi PP dan penguat karbon. Selain itu, nilai konduktivitas juga masih kecil karena PVDF tidak dapat membantu ikatan PP dengan penguat karbon dengan baik.

Nowadays, when the usage of cheap, efficient, and eco-friendly energy is needed, fuel cells as a new energy source is developed. The disadvantage of conventional fuel cells are its heavyness and its low processability, which leads to its high price. These properties are affected by its bipolar plates. Therefore, we need a lightweight, easy-to-process, and cheap bipolar plates.
In this study, we develop a bipolar plate composite by using polypropylene matrix, carbon reinforcements, and polyvinylidene fluoride as an additive and varying its composition to develop good conductivity and mechanical properties.
Composite properties are evaluated by using mechanical tests, conductivity tests, and melt flow indexer. SEM micrography is also used.
From the results, we can conclude that mechanical properties will decrease as the adding of carbon reinforcements in the composite. But, it will decrease its conductivity. From 4 formulas we develop, second formula had the best mechanical properties with 44 % wt. carbon reinforcement and the third formula had the best conductivity properties with 80 % wt. carbon reinforcements, whereas, it has 25 % wt. graphite.
In this study, the optimal composition hasn?t been retrieved. The conductivity result also shows low conductivity because PVDF doesn?t help the bonding between PP and carbon reinforcements perfectly."
2008
S51088
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Nicko Azharry Setyabudi
"Polipropilena (PP) merupakan salah satu jenis polimer termoplastik yang dibuat oleh industri polimer hulu dan digunakan dalam berbagai aplikasi. Pada penggunaannya, PP banyak ditambahkan material lain (contoh: talcum) untuk meningkatkan kualitas dan memperbaiki sifat materialnya sesuai kebutuhan. Di Indonesia, PP merupakan salah satu material yang memiliki permintaan yang besar. Namun permintaan tersebut tidak diimbangi dengan produksi yang dilakukan oleh industri polimer hulu yang ada di dalam negeri. Pada tahun 2011, Indonesia menjadi negara pengimpor produk olefin terbanyak di ASEAN. Oleh karena itu, solusi alternatif diperlukan untuk mengatasi masalah ini, salah satunya dengan menggunakan material daur ulang (regrind).
Studi ini dilakukan untuk mengkaji karakteristik paduan yang terbentuk dari material regrind polipropilenatalcum (jenis komposit polipropilena yang banyak digunakan dalam industri otomotif) sehingga dapat diketahui apakah material regrind memiliki karakteristik yang tidak kalah baik dibandingkan material fresh-nya. Studi ini didukung dengan sebuah fakta bahwa material regrind polipropilena-talcum 20% memiliki titik leleh yang tidak berbeda jauh dengan temperatur leleh polipropilena (sekitar 176 °C), yaitu pada temperatur 176.4 °C.
Studi ini dilakukan dengan membentuk paduan dari material regrind polipropilena-talcum 20% dan 30% dan melalui proses dry mixing dan hot melt mixing. Karakteristik yang dikaji meliputi perubahan morfologi yang terjadi akibat proses regrinding dan pencampuran material, perilaku mekanik (kekuatan tarik dan modulus elastisitas), dan perilaku termal material tersebut.

Polypropylene (PP) is a thermoplastic polymer made by the polymer industry and used in various applications. In the application, PP is added to other material (eg, talcum) to improve the quality and enhance the properties of material. In Indonesia, the PP is one of the materials that have a great demand. But the request is not matched by production undertaken by the existing polymer industry in the country. In 2011, Indonesia became a net importer of most olefin products in ASEAN. Therefore, an alternative solution is needed to solve this problem, such as using recycled materials (regrind).
This study was conducted to examine the characteristics of the alloy is formed from polypropylene-talcum regrind material (polypropylene composites are widely used in the automotive industry) to know whether regrind material characteristics has significant differences compared to the fresh material. This study was supported by the fact that regrind material polypropylene-talcum 20% has a melting point which is not much different from the polypropylene melting temperature (around 176.0 °C), which is at 176.4 °C.
This study was conducted to form alloys of polypropylene regrind material-talcum 20% and 30% and through the process of dry mixing and hot melt mixing. Characteristics examined include morphological changes that occur due to the regrinding and mixing materials, mechanical behavior (tensile strength and modulus of elasticity), and the thermal behavior of the material.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
S47763
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Untuk mendapatkan kemasan makanan dengan sifat yang superior, trend saat ini ialah pengembangan teknologi komposit nano. Salah satu permasalahan yang ada ialah pembuatan komposit nano ini terbilang rumit dan mahal. Tujuan jangka panjang dari riset ini adalah membuat polipropilena (PP) clay komposit nano (PPCN) yang berbiaya
rendah dengan menerapkan prinsip pembuatan singkat cascade engineering. Prinsip cascade engineering pada pembuatan PPCN ini, dilakukan dengan pembuatan pengkompatibel (compatibilizer) dalam hal ini PP-g-maleik anhidrida (maleic anhydride/MA) (untuk memungkinkan pencampuran PP dengan clay), masterbatch, dan PPCN secara berkelanjutan dalam satu alat melt mixing. Hasil penelitian yang disajikan pada tulisan ini difokuskan pada stabilitas termal PPCN yang dibuat dengan prosedur ?cascade engineering? yang disimulasikan dengan perlakuan anil (pemanasan), yang diamati dengan teknik difraksi sinar x (XRD) small angle pada morfologi sampel PPCN. Dari hasil
XRD yang dilakukan, terlihat bahwa morfologi yang dihasilkan sistem ini ialah berupa interkelasi. Dan secara umum, terlihat tidak adanya pengaruh yang signifikan dari variabel waktu pembuatan masterbatch yang digunakan (1, 3, dan 6 menit). Setelah dilakukan pengujian XRD pasca anil, terlihat bahwa stabilitas termal sistem yang dihasilkan kurang baik. Hal ini terlihat dari adanya penurunan ukuran galeri montmorillonit (deinterkelasi). Diperkirakan hal ini disebabkan
oleh kurang kuatnya ikatan yang terbentuk antara pengkompatibel PP-g-MA dengan clay dan juga kurang baiknya kompatibilitas PP-g-MA.

Abstract
Superior properties of food packaging can be achieved using nanocomposite technology. However, fabrication of this materials are complex and expensive. Long term objectives of this research is
the synthesis of low cost polypropylene clay nanocomposites (PPCN) via a short-cut method known as ?cascade engineering?. Cascade engineering principle in PPCN fabrication is performed by using compatibilizer (to enable the mixing of PP and clay) masterbatch, and PPCN in one pot process using melt mixer. This paper present the
experimental results using small-angle x-ray diffraction (XRD) on the thermal stability of the PPCN. Results from the XRD analysis showed that the clay was intercalated, however no significant changes were observed as a result of variation in mixing time. XRD patterns of the annealed PPCN showed reduction of MMT?s gallery (deintercalation)
These phenomenon was probably caused by insufficient bonding and lack of compatibility between PP-g-MA and MMT."
[Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia, Fakultas Teknik Universitas Indonesia], 2009
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Johannes Chandra
"Beton sebagai material konstruksi dikenal getas (brittle) dan lemah terhadap tarik dibandingkan dengan material baja. Penelitian para ahli menunjukkan peningkatan daktilitas beton melalui penambahan serat pada material beton. Salah satu jenis serat yang sering digunakan adalah serat Polypropylene (PP), yang juga digunakan sebagai bahan dasar pembuatan gelas kemasan air mineral. Berangkat dari peningkatan jumlah limbah gelas plastik, maka penggunaannya sebagai material tambahan pada beton diharapkan dapat mengatasi permasalahan sampah perkotaan, dan dalam jangka panjang diharapkan dapat mengurangi biaya pembangunan rumah tinggal.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari efektifitas penggunaan cacahan limbah plastik PP terhadap peningkatan kuat tarik dan kuat lentur beton normal (fc' = 25 MPa). Kadar cacahan PP yang ditambahkan pada beton normal adalah 0,90; 1,35; 1,80; 2,25; 2,70; 4,50; 6,30; 9,00; 18,00 dan 27,00 kg/m3 atau dalam volume fraksi adalah 0,10; 0,15 0,20 ; 0,25; 0.30; 0,50; 0,70; 1,00; 2,00 dan 3,00% untuk pengujian kuat tarik yang dilakukan pada benda uji umur 7 dan 28 hari, serta 0,90; 1,35; 1,80; 2,25; 2,70; 4,50; 6,30; dan 9,00 kg/m3 atau dalam volume fraksi adalah 0,10; 0,15 0,20 ; 0,25; 0.30; 0,50; 0,70 dan 1,00% untuk pengujian kuat lentur yang dilakukan pada benda uji umur 28 hari.
Percobaan pembebanan yang dilakukan meliputi pembebanan tarik belah, pembebanan lentur dan modulus elastisitas. Benda uji untuk pengujian tarikbelah dan modulus elastisitas adalah silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm, sedangkan benda uji percobaan pembebanan lentur adalah balok 10x10x55 cm3.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental, dimana percobaan dilakukan untuk mendapatkan kumpulan data, yang kemudian akan dianalisa secara statistik kuantitatif dan kualitatif.. Metode Analisis Rancang Campur yang digunakan adalah Metode US. Bureau. Benda Uji dibuat di Laboratorium Bahan Departemen Sipil FTUI. Standar Uji yang digunakan baik untuk pengujian material dasar, beton muda dan beton yang sudah mengeras
mengacu pada Standar ASTM.
Penambahan jumlah cacahan plastik polypropylene pada kadar tertentu akan menurunkan workabilitas dari beton, hal ini ditunjukkan dengan penurunan slump beton seiring dengan peningkatan kadar cacahan.
Dari Hasil Pengujian didapat, penambahan cacahan plastik polypropylene secara umum tidak memiliki pengaruh yang berarti pada tegangan tarik beton normal. Peningkatan paling besar terjadi pada benda uji kadar 0,3% umur 7 hari, yaitu sebesar 10,989%; dengan tegangan tarik berkisar antara 0,456 - 0,648 √ ? ' c. Hal ini secara umum diakibatkan karena ikatan atau gaya adhesi antara cacahan dengan matriks beton lebih lemah dari gaya kohesi antara matriks beton itu sendiri. Hal ini dibuktikan dengan uji tarik belah, dimana cacahan plastik pada benda uji yang terbelah tidak putus akibat pembebanan, melainkan masih tersambung, sedangkan material.
Sedangkan Penambahan cacahan plastik polypropylene secara umum meningkatkan tegangan tarik lentur beton normal. Peningkatan paling besar terjadi pada benda uji kadar 0,7% umur 28 hari, yaitu sebesar 17,098%; dengan tegangan tarik lentur berkisar antara 0,853 - 1,056 √ ? & c.

Concrete as construction material is known brittle and possess relatively weak tensile strength, compared to steel material. Experiments done by the experts shows an improvement in ductility of concrete by adding fiber to concrete material. One of the fibers that often used is Polypropylene (PP) fiber, which also used as a raw material in mineral water plastic glass manufacture. The increase of
amount of plastic glass waste, gives an idea to use it as an addition material in concrete. It expects decrease the urban waste problem, and in long term, to reduce the cost to build a house.
The purpose of this experiment is to study the effect of usage of PP plastic waste in tensile and flexural strength of normal concrete with fc? 25 MPa. The amount of crushed PP added to normal concrete are 0,90; 1,35; 1,80; 2,25; 2,70; 4,50; 6,30; 9,00; 18,00 and 27,00 kg/m3 or in fraction volume are 0,10; 0,15 0,20 ; 0,25; 0.30; 0,50; 0,70; 1,00; 2,00 and 3,00% for tensile strentgh test which done in age 7 and 28 days, also 0,90; 1,35; 1,80; 2,25; 2,70; 4,50; 6,30; and 9,00 kg/m3 or in fraction volume are 0,10; 0,15 0,20 ; 0,25; 0.30; 0,50; 0,70 and 1,00% for flexural strentgh test which done in age 28 days.
The test is consist of splitting tensile test, flexural test and modulus elasticity test. The sample for tensile and modulus elasticity test is cylinder with 15 cm diameter and 30 cm height, as for the flexural test is beam with size 10x10x55 cm3.
In this experiment the experimental method will be used, where the experiment done to collect data, and the data will be analyzed quantitative and qualitative statistically. The Mix Design Method used is US. Bureau Method. The sample will be made in Material Laboratory, Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, University of Indonesia. The Standard to test the constituent materials, fresh concrete and hard concrete is based on ASTM Method.
The addition of crushed polypropylene plastic in specific amount will decrease the workability of concrete, shown by the decrease of concrete?s slump as the increase of crushed plastic amount.
The Test shows that the addition of crushed polypropylene plastic will not influence the tensile stress of normal concrete, generally. The highest increase happened in volume fraction 0.3% age 7 days, with 10.989%; and the tensile strengths have range from 0.456 - 0.648 √ ? & c. . This is generally because the bond or adhesion between the plastic and matrix is weaker then the cohesion of the matrix itself. It is proved by the splitting tensile test, where the plastics are do not yield by the loading, as for the aggregates are crushed by the loading.
As for the flexural tensile stress, it tends to increase. The highest increase, happened in volume fraction 0.7% age 28 days, with 17.098%; and the flexural strengths have range from 0.853 - 1.056 √ ? & c."
2008
S35339
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
F. Anjani Adyani D.
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2010
TA1382
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Enrico Susanto
"[Pada penelitian ini, serat ijuk dihancurkan dan diayak ukuran 40 # setelah itu serat ijuk diberi perlakuan kimia dengan NaOH 2 % selama 1 jam, KMnO4 0,1 N selama 15 menit, dan NaClO 5 % selama 5 jam dengan tujuan mendapatkan selulosa kristalin. Setelah itu dilakukan proses pencampuran kering (hotmelt mixing) antara polipropilen dengan serat ijuk hasil perlakuan kimia dengan 7,5 % volum serat ijuk terhadap polipropilen dengan variabel temperatur 160°C, 165°C, dan 170°C dan variabel waktu pencampuran 15 menit dan 20 menit. Setelah itu dilakukan pengujian uji FTIR buat serat, sedangan buat komposit adalah uji tarik, uji STA, uji XRD, dan uji FE-SEM hal ini dilakukan untuk mendapatkan sifat kristalinitas dan mekanik dari komposit polipropilen ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serat ijuk hasil perlakuaan lebih kristalin dari pada serat ijuk tanpa perlakukan, polipropilen dengan serat ijuk hasil perlakuaan kimia cukup kompatibel terhadap polipropilen, dari penelitian didapatkan sifat kristalinitas terbaik pada variabel 165°C selama 20 menit. Dan yang memiliki sifat kekuatan tarik paling baik adalah variabel 170°C selama 20 menit, sedangkan yang memiliki % elongasi paling baik adalah dengan variabel 160°C 20 menit.

In this work, palm fiber crushed and sieved size 40 # after the palm fiber chemically treated with 2% NaOH for 1 hour, 0.1 N KMnO4 for 15 minutes, and 5% NaClO for 5 hours in order to obtain crystalline cellulose. Once that is done the dry mixing (hotmelt mixing) between polypropylene and palm fiber chemical treatment results with 7.5% volume of the palm fiber and polypropylene with a variable temperature of 160°C, 165°C and 170°C and a variable time mixing 15 minutes and 20 minutes. After it was examined FTIR test for fiber, while the composite is made tensile test, STA test, XRD test and FE-SEM test this is done to obtain crystallinity and mechanical properties of polypropylene composites this. The results show that fiber perlakuaan results more crystalline fibers than untreated palm fiber, polypropylene and palm fiber chemistry results treatment compatible enough to polypropylene, crystallinity of the research showed the best properties on the variable 165 ° C for 20 minutes. And who has the most excellent tensile strength properties are variable 170 ° C for 20 minutes, while the best of % elongation is at a variable 160 ° C 20 minutes.;In this work, palm fiber crushed and sieved size 40 # after the palm fiber chemically treated with 2% NaOH for 1 hour, 0.1 N KMnO4 for 15 minutes, and 5% NaClO for 5 hours in order to obtain crystalline cellulose. Once that is done the dry mixing (hotmelt mixing) between polypropylene and palm fiber chemical treatment results with 7.5% volume of the palm fiber and polypropylene with a variable temperature of 160°C, 165°C and 170°C and a variable time mixing 15 minutes and 20 minutes. After it was examined FTIR test for fiber, while the composite is made tensile test, STA test, XRD test and FE-SEM test this is done to obtain crystallinity and mechanical properties of polypropylene composites this. The results show that fiber perlakuaan results more crystalline fibers than untreated palm fiber, polypropylene and palm fiber chemistry results treatment compatible enough to polypropylene, crystallinity of the research showed the best properties on the variable 165 ° C for 20 minutes. And who has the most excellent tensile strength properties are variable 170 ° C for 20 minutes, while the best of % elongation is at a variable 160 ° C 20 minutes.;In this work, palm fiber crushed and sieved size 40 # after the palm fiber chemically treated with 2% NaOH for 1 hour, 0.1 N KMnO4 for 15 minutes, and 5% NaClO for 5 hours in order to obtain crystalline cellulose. Once that is done the dry mixing (hotmelt mixing) between polypropylene and palm fiber chemical treatment results with 7.5% volume of the palm fiber and polypropylene with a variable temperature of 160°C, 165°C and 170°C and a variable time mixing 15 minutes and 20 minutes. After it was examined FTIR test for fiber, while the composite is made tensile test, STA test, XRD test and FE-SEM test this is done to obtain crystallinity and mechanical properties of polypropylene composites this. The results show that fiber perlakuaan results more crystalline fibers than untreated palm fiber, polypropylene and palm fiber chemistry results treatment compatible enough to polypropylene, crystallinity of the research showed the best properties on the variable 165 ° C for 20 minutes. And who has the most excellent tensile strength properties are variable 170 ° C for 20 minutes, while the best of % elongation is at a variable 160 ° C 20 minutes.;In this work, palm fiber crushed and sieved size 40 # after the palm fiber chemically treated with 2% NaOH for 1 hour, 0.1 N KMnO4 for 15 minutes, and 5% NaClO for 5 hours in order to obtain crystalline cellulose. Once that is done the dry mixing (hotmelt mixing) between polypropylene and palm fiber chemical treatment results with 7.5% volume of the palm fiber and polypropylene with a variable temperature of 160°C, 165°C and 170°C and a variable time mixing 15 minutes and 20 minutes. After it was examined FTIR test for fiber, while the composite is made tensile test, STA test, XRD test and FE-SEM test this is done to obtain crystallinity and mechanical properties of polypropylene composites this. The results show that fiber perlakuaan results more crystalline fibers than untreated palm fiber, polypropylene and palm fiber chemistry results treatment compatible enough to polypropylene, crystallinity of the research showed the best properties on the variable 165 ° C for 20 minutes. And who has the most excellent tensile strength properties are variable 170 ° C for 20 minutes, while the best of % elongation is at a variable 160 ° C 20 minutes.;In this work, palm fiber crushed and sieved size 40 # after the palm fiber chemically treated with 2% NaOH for 1 hour, 0.1 N KMnO4 for 15 minutes, and 5% NaClO for 5 hours in order to obtain crystalline cellulose. Once that is done the dry mixing (hotmelt mixing) between polypropylene and palm fiber chemical treatment results with 7.5% volume of the palm fiber and polypropylene with a variable temperature of 160°C, 165°C and 170°C and a variable time mixing 15 minutes and 20 minutes. After it was examined FTIR test for fiber, while the composite is made tensile test, STA test, XRD test and FE-SEM test this is done to obtain crystallinity and mechanical properties of polypropylene composites this. The results show that fiber perlakuaan results more crystalline fibers than untreated palm fiber, polypropylene and palm fiber chemistry results treatment compatible enough to polypropylene, crystallinity of the research showed the best properties on the variable 165 ° C for 20 minutes. And who has the most excellent tensile strength properties are variable 170 ° C for 20 minutes, while the best of % elongation is at a variable 160 ° C 20 minutes., In this work, palm fiber crushed and sieved size 40 # after the palm fiber chemically treated with 2% NaOH for 1 hour, 0.1 N KMnO4 for 15 minutes, and 5% NaClO for 5 hours in order to obtain crystalline cellulose. Once that is done the dry mixing (hotmelt mixing) between polypropylene and palm fiber chemical treatment results with 7.5% volume of the palm fiber and polypropylene with a variable temperature of 160°C, 165°C and 170°C and a variable time mixing 15 minutes and 20 minutes. After it was examined FTIR test for fiber, while the composite is made tensile test, STA test, XRD test and FE-SEM test this is done to obtain crystallinity and mechanical properties of polypropylene composites this. The results show that fiber perlakuaan results more crystalline fibers than untreated palm fiber, polypropylene and palm fiber chemistry results treatment compatible enough to polypropylene, crystallinity of the research showed the best properties on the variable 165 ° C for 20 minutes. And who has the most excellent tensile strength properties are variable 170 ° C for 20 minutes, while the best of % elongation is at a variable 160 ° C 20 minutes.]"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2015
S1575
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pandu Lanang Kinasih
"Dalam bisnis gelas polipropilena hasil proses thermoforming, kualitas produk ditentukan salah satunya oleh kecepatan alir lelehan (Melt Flow Rate, MFR) yang rendah. Namun, tingginya harga material mendorong industri untuk menurunkan berat produk dan meningkatkan kecepatan produksinya, salah satunya dengan menggunakan MFR yang tinggi.
Dalam penelitian ini, telah dilakukan pengujian mekanis lengkap dan analisis statistik untuk menentukan formulasi empiris polipropilena berdasarkan MFR, fraksi ataktik, dan kandungan etilena kopolimer. Penelitian menunjukan bahwa performa terbaik dari uji jatuh diperoleh dari sampel dengan rentang MFR antara 2.2?2.4 gr/10min, fraksi ataktik antara 1.5?2.96 wt%, dan kandungan etilena kopolimer kurang dari 0.82 wt%. Hasil tersebut memenuhi persyaratan uji aplikasi, stabilitas proses, dan tahapan penyusunan produk.

In polypropylene thermoforming cup business, the quality of product can be achieved by the raw material with low melt flow rate (MFR). However, the high material cost condition has encouraged cup manufacturer to down gauge the cup weight and increase the productivity by using higher MFR.
In this study, a series of mechanical testing and statistical analysis have been used to empirically formulate the desired polypropylene based on MFR, atactic fraction, and ethylene copolymer aspects. On the basis of the investigation, it has been found that the best performance in drop test was provided by the sample with the MFR of 2.2?2.4 gr/10min, atactic fraction of 1.5?2.96 wt%, and ethylene copolymer content
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
T41230
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>