Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 75895 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Moore, Henrietta L.
Jakarta: Obor, 1998
305.42 MOO f
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Hearty, Free
"Penelitian ini melihat kontestasi pemikiran feminisme dan ideologi patriarki dalam tiga teks berbudaya Arab-Muslim, yakni: Women at Point Zero (WAPZ) karya Nawal El Saadawi (1976), A Wife for My Son (AWfMS) karya Ali Ghalem (1969), dan The Beginning and The End (TBTE) karya Naguib Mahfoudz (1949). Karena yang diamati adalah pertarungan ideologi, maka karya sastra di sini diperlakukan sebagai satu aspek budaya. Dengan begitu pendekatan yang digunakan adalah pendekatan budaya. Pengkajian budaya lebih mengamati aspek politis dari kehadiran teks sastra. Dalam hal ini teks sastra dianggap bisa menyosialisasikan berbagai hal untuk membangun atau meruntuhkan suatu ideologi.
Pendekatan budaya feminis, khususnya feminis Muslim, digunakan untuk mengamati bagaimana gagasan feminis dimunculkan menghadapi dominasi laki-laki, dan bagaimana citra perempuan sebagai korban atau citra perempuan yang berpotensi memperjuangkan kesetaraan ditampilkan dalam teks-teks WaPZ, AWfMS dan TBTE. Pendekatan budaya post-feminis yang digagas Naomi Wolf digabungkan dengan pandangan Fatima Mernissi dari feminis Muslim, digunakan untuk mengamati ketiga teks. Naomi Wolf menggunakan pendekatan Feminis Korban dan Feminis Kekuasaan untuk melihat permasalahan yang dihadapi perempuan dalam memperjuangkan ideologi feminisme. Feminis Kekuasaan adalah cara yang melihat potensi perempuan dan menganggap perempuan sebagai manusia biasa, sama seperti laki-laki, untuk menjadi setara. Kesetaraan memang sudah menjadi hak perempuan tanpa harus dimohon dari orang lain. Sedangkan Feminis Korban adalah cara yang digunakan dengan membuat catatan penderitaan perempuan karena kejahatan lelaki di bawah budaya patriarki, sebagai jalan menuntut hak. Gagasan Wolf ini sejalan dengan pemikiran Fatima Mernissi yang melihat permasalahan dengan melakukan pendekatan yang mempraktekkan toleransi, menunjukkan potensi diri, dan bukannya pembenaran diri sendiri. Wolf dan Mernissi punya pandangan sama, bahwa perlu membangun citra baru perempuan yang mengemukakan potensi diri yang mampu dan berhak untuk setara dengan laki-laki.
Nawal El Saadawi yang terkenal sebagai feminis yang aktif menggugat kekuasaan lelaki, dalam teks WAPZ menggunakan cara Feminis Korban. Nawal menggambarkan "catatan daftar kehancuran hidup Firdaus" dalam usahanya menggugat kekuasaan lelaki. Dalam kata pengantar dan cerita narator, Nawal membangun citra Firdaus yang korban kejahatan lelaki, sebagai perempuan yang berani dan terhormat. Namun lewat Firdaus yang menarasikan kisah hidupnya, yang muncul adalah gambaran kelemahan perempuan yang dengan mudah dibodohi dan ditindas lelaki tanpa pemberontakan yang berani. Keberanian Firdaus yang dimunculkan dengan membunuh mucikari dan menolak mengajukan grasi, tidak membangun citra baru perempuan. Keputusan membunuh muncul karena keadaan terdesak, tidak menunjukkan keberanian.
Dalam AWfMS, Ghalem tidak setajam dan sekeras Nawal mengangkat perjuangan perempuan yang menuntut perubahan. Namun caranya yang terkesan hati-hati mengusung gagasan perubahan dan modernisasi, Ghalem lebih menunjukkan bentuk pembelaan terhadap laki-laki. Laki-laki dalam teks dimunculkan juga sebagai korban budaya. Apalagi Ghalem secara tegas membedakan pemikiran tentang perubahan dan modernisasi dengan gagasan feminisme yang diangkat tokoh Fatouma. Sama seperti Nawal, Ghalem juga tidak membangun citra baru perempuan. Perempuan masih dimunculkan sebagai korban dalam konsep "Feminis Korbrm", dengan sifat dan sikap yang telah dibentuk budaya patriarki. Fatiha, tokoh utama, berontak hanya dalam gagasan. Sedangkan sikap dan pilihan hidup bertentangan dengan pikiran-pikiran yang menolak dominasi laki-laki. Ia menolak kawin paksa, tapi tidak menolak ketika dipaksa kawin dengan lelaki yang tidak dia kenal. Ia ingin mandiri tapi menggantungkan hidup kepada suami. Pada akhir kisah, Fatiha berontak dengan meninggalkan suami dan rumah mertua, tapi ditolak oleh orang tuanya. Menunggu dan berharap, seperti inilah citra perempuan yang ditampilkan. Khas patriarkis.
Dalam TBTE, Mahfoudz memunculkan tokoh perempuan yang berbeda. Mahfoudz menyorot potensi perempuan tidak dengan perspektif feminisme. Namun ketika potensi tersebut disorotnya, gambaran ini meruntuhkan mitos-mitos yang membagi kerja laki-laki dan perempuan. Gambaran ini bahkan membangun citra baru perempuan yang kuat, tegas, dan mandiri dalam membuat keputusan-keputusan. Citra seperti ini memungkinkan perempuan menunjukkan kemampuan dan berjuang memperoleh hak secara setara dengan laki-laki. Cara yang menyorot potensi perempuan seperti ini disebut sebagai "Feminis Kekuasaan".
Ketiga teks menunjukkan cara yang berbeda memunculkan kontestasi pemikiran feminisme dan ideologi patriarki. Perbedaan ini menampakkan bahwa kepedulian tentang diskriminasi jender dan kehendak memperjuangkan kesetaraan, tidak serta merta membuat sesorang bisa mengatur langkah strategis untuk memperjuangkan kesetaraan tersebut. Hal ini menunjukkan pula bahwa seorang feminis yang memperjuangkan keberpihakkan terhadap perempuan, bisa pula terjebak dalam perilaku yang dikonstruksi budaya patriarki. Secara sadar atau tidak, mereka terjebak dalam sikap yang meminggirkan perempuan dan mengukuhkan kekuasaan laki-laki.

The Contestation of Feminist Ideas and Patriarchal Ideology: An Analysis on Three Arab-Muslim Culture Literary Texts from a Moslem Feminist PerceptionThis research explores the contestation of feminist ideas and patriarchal ideology in three Arab-Moslem culture literary texts: Women at Point Zero (WaPZ) by Nawal El Saadawi (1976), A Wife for My Son (AWfMS) by Ali Ghalem(1969), and The Beginning and The End(TBTE) by Naguib Mahfoudz (1949). Referring to ideology contestation the above, literary works are viewed from a cultural aspect. Thus, the approach used is cultural. Cultural study perceives political aspects of a literary text. In this case, the literary text is assumed as being able to include everything, to build, or to destroy an ideology.
A cultural approach of feminists, especially Moslem feminists, is used to view how feminists ideas develop when the domination of men, and how the image of women as victims, or those having the potential to fight for equality is presented in the texts of WaPZ, AWIMS and TBTE. The cultural approach of post-feminism initiated by Naomi Wolf coupled with the view of Moslem feminist, Fatima Mernissi, is used to analyze those three texts. Naomi Wolf uses a Victim Feminist and Power Feminist approach to see problems facing women in their fight for feminist ideology. A Power Feminist approach is one way of seeing women's potential and assuming women as ordinary human beings, to become equal to men. Equality is truly considered as a woman's right without having to wrench it from others. A Victim Feminist approach shows women's suffering caused by men's under the culture of patriarchy, as a vehicle to demand justify. Wolfs idea is in line with Fatima Mernissi's, i.e. addressing problems through tolerance, showing self-potentials rather than self-justification. Both Wolf and Mernissi express it is necessary to build a new image of women, showing their self-potentials and entitled to be equal to men.
Nawal El Saadawi, famous as an active feminist, attacks men's power in the WaPZ text in a Victim Feminist manner. Nawal depicts "notes on the list of Firdaus living destruction" in an effort to fight men's power. In the narrator's account and preface, Nawal builds Firdaus image as the victim of men. But through Firdaus account of her life story, shows woman's weakness, i.e. she is easily cheated and victimized by men without offering resistance. The bravery of Firdaus by killing a pimp and refusing clemency does not produce a new image of women. The decision to kill is based on reason rather than bravery.
In AWfMS, Ghalem is not as keen and hard as Nawal in raising the problem of women's struggle for change. However, by a seemingly careful way of introducing change and modern ideas, Ghalem defends men. Man in literary text is considered also a cultural victim. More than anything else, Ghalem expresses the idea of change and modernization by introducing feminist Fatouma. Like Nawal, Ghalem does not build a new image of women. Woman is still a victim in the "Victim Feminist" concept, in which character are formed by patriarchal culture. Fatiha, the leading character, opposes patriarchy only in her mind. Her attitude and choices to live are against men's domination. She refuses a forced marriage, but agrees to be married to man she's never seen before. She wishes to be self-supporting, but depends economically on her husband. The end of the story shows how Fatiha rebels by leaving her husband and parent's in-law's house, but her parents refused to take her back. She just waits and hopes, a woman's image, typically built by patriarchy.
In TBTE Mahfoudz presents a different woman figure. Mahfoudz highlights the potential of woman unlike that approved of feminism. However, when emphasizing such potential, this picture demolishes myths with respect to the labor division of men and women. In fact, this picture builds a new image of woman who is strong, coherent, and self-supporting in making decisions. This image enables women to show their ability and to struggle for rights equal to men's. Stressing woman's potential like this is perceived as "Power Feminist".
The three texts offer different points of view in contesting feminist ideas and patriarchal ideology. This difference shows that the concern for gender discrimination and the will of fighting for equality do not necessarily make someone able to plan strategic steps to fight for equality. It is also indicates that feminists fighting for women's preference can be trapped also in a patriarchal cultured behavior. Consciously or not, they are trapped in an attitude forcing out women and confirming men's power.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2005
D538
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Misiyah
"Realitas empirik di Indonesia, kejatuhan Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 memang mengakhiri era otoriterisme politik Soeharto, namun bukan berarti akhir dari eksistensi rejim Orde Baru. Ruang ekspresi politik menjadi relatif terbuka, namun kekuatan politik otoriterisme dan patriarkis juga masih tetap menjadi ancaman. Ruang politik yang terbuka menjadi ajang pertarungan kelompok-kelompok yang memperjuangkan demokrasi berhadapan dengan kelompok-kelompok yang berpotensi menjadi ancaman bagi demokrasi. Dalam perspektif perempuan, perubahan politik yang terjadi pada era rejim pasca Soeharto tidak membawa kemajuan yang berarti bagi perempuan Indonesia karena parameter perubahan sosial politik hanya mengedepankan perubahan di ranah publik. Dalam perspektif feminisme, perubahan sosial tidak hanya bersandar pada ranah publik, tetapi memperhitungkan transformasi yang terjadi pada tingkat individu sama pentingnya dengan perubahan kolektif. 'Masalah perempuan adalah masalah politik' sebagai ide dasar feminis poskolonial mempunyai sumbangan yang mampu menggugat ukuran-ukuran formal di ranah publik yang pada dasarnya ukuran-ukuran tersebut dirumuskan oleh semangat patriarki. Disinilah signifkansi penelitian ini, sebuah penelitian yang merespons sistem sosial politik Indonesia yang tunggal, yaitu sistem yang dikonstruksi berdasar cara Pandang patriarki dan mengakibatkan penindasan perempuan menjadi persoalan yang kasat mats tetapi belum mendapat perhatian.
Pengungkapan ketertindasan penting dilakukan dengan cara membangun kesadaran bahwa perempuan dikonstruksi menjadi kelompok tertindas. Melalui kesadaran ini, masalah ketidakadilan perempuan dianggap sebagai masalah penting yang perlu disikapi secara serius dan tidak ditinggalkan dalam proses-proses demokratisasi. Kesadaran kritis dan otonomi perempuan merupakan aspek penting dalam melakukan proses-proses pembebasan perempuan dari ketertindasannya. Dalam masyarakat yang secara kultural maupun struktural mengalami ketimpangan hubungan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki, penindasan perempuan merupakan keniscayaan terjadi dalam segala aspek kehidupan. Sistem patriarki telah terintegrasi dalam kehidupan individu maupun institusi sosial menyebabkan perempuan tersubordinasi, mengalami kekerasan, perlakuan diskriminatif, dan marginalisasi. Berangkat dari situasi tersebut, rumusan masalah yang diajukan adalah "seberapa efektif Pendidikan Feminis dapat mendorong tumbuhnya kesadaran kritis dan otonomi perempuan di Indonesia?"
Meskipun penelitian ini mengkaji sebuah program kerja tetapi tidak dimaksudkan untuk melakukan monitoring evaluasi. Oleh karena itu, teori yang digunakan bukan teori-teori monitoring evaluasi tetapi teori feminisme poskolonial. Adapun pendekatan penelitian ini adalah pendekatan penelitian feminis (feminist research).
Temuan-temuan penelitian ini mencakup beberapa hal. Pertama, adanya hubungan positif antara kesadaran kritis dengan aksi-aksi transformatif. Hal ini tercermin pada pengaruh Pendidikan Feminis dalam memperkuat kemampuan pemimpin lokal ('PL') mencakup tiga hal yaitu: (1) semakin menguatnya kesadaran kritis terhadap ketertindasan perempuan di wilayah Sulwesi Utara. Dalam konteks masyarakat Sulaweasi Utara yang plural, kesadaran atas ketertindasan perempuan dibarengi dengan kesadaran bahwa kelas, ras, etnis, dan agama. Berbagai sumber penindasan ini saling terkait dan memperkuat satu sama lain (interlocking system). (2) Semakin menguatnya otonomi perempuan yang terwujud dalam sikap-sikap perlawanan dengan menolak sunat perempuan, poligami, jilbab, kewajiban melayani hubungan seks kepada suami dan pemaksaan untuk menggunakan alat-alat KB tertentu. (3) Tumbuhnya kemampuan melakukan aksi-aksi transformatif dengan perspektif feminisme dan pluralisme.
Kedua, adanya kesadaran kritis yang dibarengi dengan tindakan transformatif merupakan satu pola aksi-refleksi dalam siklus Pendidikan Feminis. Aksi-refleksi ini dapat berlangsung jika didukung oleh support group. Salah satu contoh support group yang ditemukan dalam penelitian ini adalah berdirinya organisasi PILAR Perempuan. Melalui program-program kerja PILAR Perempuan, para 'PL' dapat melakukan aksi dan refleksi.
Ketiga, adanya perbedaan fokus perhatian antara 'PL' perempuan dan laki-laki dalam melakukan aksi-aksi tranformatif. Seksualitas atau memperkuat otonomi tubuh merupakan fokus perhatian perempuan dan laki-laki lebih pada upaya mendorong partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan."
Depok: Universitas Indonesia, 2005
T22168
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adriana Venny Aryani
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1999
T181
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nana Nurliana
"Penelitian yang berjudul "Sejarah wanita dan Perkembangan Feminisme di Ameriika" berusaha untuk mengungkapkan permasalahan tentang gerakan wanita dan feminisme di Amerika Serikat. Adapun permasalahan yang akan dijawab antara lain tentang situasi dan kondisi kaum wanita Amerika sejak masa kolonial hingga masa kini. Kemudian dikaji tentang dampak pengalaman dan kesadaran kaum wanita dan reaksi mereka yang menimbulkan gerakan feminisme.
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang sesuai dengan kaidah-kaidahnya. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah mengungkapkan pengalaman kaum wanita Amerika dalam proses perkembangan negara tersebut. Dari suatu masyarakat koloni menjadi nasyarakat industri yang modern oengan segala implikasi dan komplikasinya. Dari reaksi kaum wanita Amerika terhadap tantangan zaman yang mereka hadapi Rita mencoba untuk turut memahaminya. Sehubungan dengan itu, bila Rita merefleksikan pada Dengalaman historis kaum wanita Indonesia maka kajian tentang pengalaman bangsa lain akan sangat? bermanfaat.
Jadi dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hasilnya diharapaan menjadi model dan inspirasi bagi penelitian tentang gerakan wanita Indonesia yang dewasa ini sedang mengalami perubahan sosial-budaya yang besar sebagai dampak dari perkembangan ekonomi dan industrialisasi."
Depok: Fakultas Ilmu Pengatahuan Budaya Universitas Indonesia, 1996
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Amalia Puspa Khoirunnisa
"Jurnal ini membahas cerminan dari 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita melalui kacamata feminisme radikal dengan mengamati ketujuh perempuan yang digambarkan sebagai korban kejahatan laki-laki serta keterkaitannya dengan budaya patriarki di Indonesia serta bagaimana perempuan digambarkan dalam sebuah media komunikasi massa (film). Tekanan dan kekerasan yang terjadi pada perempuan, fisik hingga emosional, berakar pada keadaan biologis yang dianggap sebagai ?objek‟ dan mengakibatkan ketidaksetaraan gender.
Kesimpulan yang didapat adalah jika perempuan mampu menjalankan hak dan kewajibannya tanpa mengikuti ?kodrat‟ dan konstruksi peran gender, perempuan mampu terhindar dari tekanan dan kekerasan seperti yang digambarkan dalam film ini.

This journal discusses the reflection of 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita the movie focusing on radical feminism point of view by observing the seven women whom illustrated as male victim of crime and its connection to patriarchy culture in Indonesia and how women is described on mass communication media (movie). The pressure and violence against women, physical through emotional, rooted out of their biological condition that considered being an ?object‟ and as a result of gender inequality.
Conclusion of this matter is that if women are able to conduct their right and responsibility without following ?nature‟ and constructed gender roles, women are able to avoid pressure and violence that‟s pictured in this movie.
"
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2014
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Gadis Arivia Effendi
Jakarta : Kompas , 2006
320.562 2 GAD f
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Sujatrini
"Skripsi ini mengungkapkan permasalahan tentang pemikiran_pemikiran dasar feminisme di tahun 70-an, serta dampaknya dalam sinema di Perancis di masa itu. Analisis dibuat berdasarkan teori Dominique Noguez, yang diilhami oleh pemikiran Karl Marx mengenai materialism dialektik. Setiap kelompok masyarakat mempunyai ideologi yang dihayati secara tak sadar oleh anggota masyarakat yang bersangkutan. Ideologi tersebut terungkap dalam karya-karya seni yang dihasilkan oleh para seniman. Teori Noguez menyebutkan bahwa ideologi dan sinema tidak dapat dipisahkan. Film merupakan ungkapan ideologi dari sutradara yang membuatnya dan merupakan media yang efektif untuk menanamkan ideologi tertentu kepada penontonnya.
Dalam bab II diuraikan perkembangan konsep-konsep baru menyangkut kedudukan perempuan dalam masyarakat Perancis. Konsep-konsep yang kemudian disebut feminisme ini, pertama kali diutarakan oleh Poullain de la Barre pada abad XVII. Pada dasarnya, konsep-konsep terebut melihat bahwa kedudukan perempuan sebenarnya secara alamiah sama dengan pria, sehingga kaum perempuan berhak memperoleh pendidikan dan mendapat kedudukan yang sama dengan pria dalam masyarakat, dalam pekerjaan maupun perkawinan."
Depok: Universitas Indonesia, 1997
S14500
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Suci Anggunisa Pertiwi
"Karya ilmiah ini membahas mengenai kemunculan ttalbabo dalam keluarga modern di Korea dan keterkaitannya dengan feminisme. Korea merupakan negara yangmenganut ajaran Konfusianisme di mana derajat laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Namun, semakin berjalannya waktu banyak perubahan yang terjadi dalam budaya masyarakat di Korea, salah satunya adalahttalbabo. Ttalbabo merupakan sebuah istilah untuk menyebutseorang ayah yang begitu menyayangi anak perempuan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah berkembangnya feminisme memberikan pengaruh terhadap meningkatnya jumlah ttalbabo di Korea.

This paper explains the emergence of ttalbabo in the Korean modern family and its relevance to feminism. Korea is a country that adheres to the teachings of Confucianism where men have a higher status than women. However, as time goes by, there are many changes that occur in Korean culture societies, one of them is ttalbabo. Ttalbabo is a term for father who loves his daughter so much. The method which is used is a qualitative method. The result of this research is the increasing number of ttalbabo in Korea which is affected by feminism improvement.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2014
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Redjeki Saptoro
"Latar Belakang
Seperti laki-laki sejak abad ketujuh belas perempuan Eropa juga bermigrasi ke Amerika Utara. Waktu perahu pemukim pertama berlabuh di Hampton Roads di dalam Domini Lama Virginia bulan Mei, 1607, penumpangnya terdiri atas lelaki saja. Mereka mendirikan benteng, gereja, gudang dan pondok-pondok di Jamestown dan mulai bercocok tanam. Wanita-wanita yang kemudian datang, bersama-sama suami harus bekerja keras untuk dapat bertahan hidup. Suami-istri melakukan semua kegiatan didalam maupun di luar rumah. Tetapi di luar rumah semua kedudukan dengan kekuasaan hanya terbuka bagi lelaki, seperti pengurusan gereja, sidang kolonial, rapat kota, hanya lelaki yang bisa berperan sebagai pemimpin. (M.P. Ryan : 1975 : 29)
Dengan makin bertambahnya kedatangan imigran, lahan pertanian lambat laun menjadi berkurang, maka pemukiman makin bergeser ke barat. Wanita golongan atas dan menengah kebanyakan tinggal di kota; mereka menjalani kehidupan jauh lebih baik dari pada wanita frontir. Gadis-gadis di kalangan atas dan menengah dipermulaan abad ke-18 telah mendapat pendidikan tidak formal untuk menunjang hari depannya sebagai istri dan ibu.
Abad ke-19 ditandai dengan terjadinya revolusi industri, pabrik-pabrik dan perusahaan bermunculan. Penduduk pedesaan mengalir ke kota industri untuk menjadi buruh pabrik. Dengan pindahnya orang desa ke kota, kehidupan keluarga petani mengalami perubahan. Mereka tidak bisa lagi hidup berswadaya dari kebun dan ternaknya. Setelah tinggal di kota para istri kehilangan daya ekonominya, karena di kota mereka tidak mempunyai kebun yang hasilnya bisa mencukupi keperluan rumah tangga dan malahan sisanya bisa dijual. Setelah di kota keperluan sehari-hari harus dibeli dengan upah kerja suami yang begitu rendah. Untuk sedikit meringankan beban keluarga harus merelakan anak yang sudah besar menjadi buruh murah di pabrik. Sebaliknya wanita kalangan menengah dan atas selain mengurus rumah tangga, diwaktu yang senggang giat mengurus usaha-usaha amal dan keagamaan.
Di pertengahan abad ke-19 para wanita yang selalu giat berusaha menegakkan keadilan di antara sesama, di Seneca Falls, di negara bagian New York, pada 19-20 Juli, 1848, pada suatu rapat besar, secara resmi mengajukan tuntutan akan perubahan kedudukan wanita. Pada pertemuan itu para wanita mengeluarkan revolusi meminta kesempatan bagi wanita dalam pendidikan, bisnis, profesi dan hak atas miliknya, kebebasan bicara dan perwalian atas anak. Tuntutan yang terakhir dan tak terbayangkan adalah hak pilih. Isu hak pilih wanita ini diumumkan untuk pertama kali di Amerika (G. G. Yates :.1940: 27-28). Setelah lebih dari 70 tahun, berhasil dengan diberlakukannya the XIX Amendment pada bulan November 1920. Dengan demikian wanita mempunyai hak pilih penuh. Ratifikasi Amandemen XIX merupakan puncak keberhasilan dari gerakan para feminis, karena dengan adanya ratifikasi tersebut dapat diartikan bahwa diskriminasi mendasar terhadap wanita telah dihilangkan.
Waktu Amerika Serikat terlibat dengan PD I, di tahun 1917 wanita dan anak didorong supaya bekerja di pabrik dan di tempat yang memerlukan tenaga kerja untuk membantu usaha nasional. Para feminis ikut aktif berperan di berbagai bidang yang bisa menunjang kemenangan Amerika, walaupun sebetulnya mereka tidak menyetujui keterlibatan Amerika dalam peperangan. Namun demi tercapainya tujuan mereka yaitu hak pilih, mereka menyesuaikan diri dengan kebijaksanaan pemerintah. Ternyata tidak lama seusai perang wanita mendapatkan hak pilih di tahun 1920 seperti diterangkan di atas. Tetapi wanita setelah menerima hak pilih tidak aktif mengadakan kegiatan.
Selama PD II wanita diminta lagi menyumbangkan tenaganya di mana diperlukan. Wanita bisa menunjukkan kecakapannya di berbagai lapangan kerja yang ditinggalkan kaum lelaki yang ikut berperang."
1995
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>