Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 180176 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"This study was designed to optimalize the use of opididymal or ejaculate sperm and plasma for in vitro fertilization,that sperm agglutination was found at preparation. The rate of sperm agglutination was calculated the head-to-head sperm agglutination that were incubated in KR-HEPES medium in 38.5 oC with 5% CO2 at 1,3,5 and 7 hours culture in vitro....."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"In this paper ,the growth of GaN:Mn thin films by plasma-assisted metalorganic chemical vapor deposition (PAMOCVD) method is reported ..."
ITJOSCI
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Arzimovich, Lev A.
Waltham: Blaisdell, 1965
531.33 ARZ e
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Brandstatter, J. J.
"New York: McGraw-Hill, 1963",
530.44 Bra i
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Destaningfara Tresna KP
"Dalam penelitian ini dibahas kinerja dari Plasma Nontermal (plasma dingin) yang digunakan dalam proses gasifikasi plasma untuk limbah organik padat. Alat pembangkit plasma dingin yang digunakan ada tiga macam, yaitu plasmatron dengan ignition coil 12 V DC dan plasmatron menggunakan Ballast CFL, serta dengan generator plasma dari HV Transformer (Neon Sign Transformer).
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, plasma nontermal (plasma dingin) juga dapat dimanfaatkan untuk proses gasifikasi limbah padat seperti halnya plasma termal, walaupun dengan kadar gas sintesis (syngas) yang dihasilkan belum begitu optimal. Kesimpulan yang dapat diambil adalah alat pembangkit plasma dingin yang dapat menghasilkan plasma dengan kualitas baik untuk proses gasifikasi adalah plasmatron Ballast CFL 220 V 23 W.

This research discuses about the performance and quality of nonthermal plasma in plasma gasification process for organic solid wastes treatment. There are three types of plasma generator to generate nonthermal plasma, which are plasmatron using ignition coil 12 V DC, plasmatron using Ballast CFL 220 V 23 W, and also a plasma generator from HV Transformer (Neon Sign Transformer).
Research results indicated that, nonthermal plasma can be use for organic solid wastes gasification process also as thermal plasma did, despite that the quantity of syngas product not optimal yet. From that three plasma generators, the best plasma generator that can generate nonthermal plasma in good quality for gasification process is plasmatron Ballast CFL 220 V 23 W.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
S52241
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Melly Juliawati Haliman
"Gangguan sirkulasi sering menimbulkan penyakit dengan angka kematian yang tinggi. D Indonesia gangguan sirkulasi sudah merupakan masaiah utama kesehatan Peningkatan kekentalan atau viskositas darah dapat merupakan penyebab langsung kegagalan sirkulasi Dengan semakin banyaknya kematian disebabkan oleh gangguan sirkulasi maka diperkirakan dimasa yang akan datang di Indonesia permintaan pemeriksaan rheologi seperti viskositas akan semakin meningkat. Tujuan penelitian ini adalah melakukan evaluasi viskometer yang dimilik Bagian Patologi Klinik FKUI-RSCM sebelum dapat digunakan untuk kepentingan diagnosis dan mengikuti perkembangan suatu penyakit serta menetapkan nilai rujukan viskositas darah, plasma dan serum Selain itu juga dilakukan uji korelası dan dan uji regresi untuk mengetahui faktor-taktor seluler dan non seluler mana yang paling mempengaruhi viskositas darah dan faktor non seluler mana yang paling mempengaruhi viskositas plasma dan serum Subyek penelitian adalah 139 subyek berasal dari mahasiswa dan penderita yang memeriksakan darahnya di Laboratorium Patolog Klinik FKUI-RSCM Pada subyek tersebut dilakukan uji korelasi dan regresi antara viskositas darah, plasma dan serum dengan parameter seluler dan non seluler Khusus untuk uj korelasi antara viskositas darah dengan vanabel bebas dilakukan uji korelasi parsial dengan melakukan kontrol terhadap variabel yang pengaruhnya pada viskositas darah paling besar yaitu Ht, Hb dan jumlah eritrosit Dari 139 subyek di atas diambil 20 subyek pria dan 20 subyek wanita baik yang memenuhi kriteria untuk dilakukan penetapan nilai rujukan viskositas darah, plasma dan serum Didapatkan hasil uji ketelitian dan ketepatan viskometer Brookfield LVDV-III Didapatkan nilai rujukan viskositas darah pada pria 3 77- 497 mPa s dan pada wanita 3.36-4 20 nilai rujukan viskositas plasma pada pria dan wanita sama yaitu 1 38-1 70 mPa s. Didapatkan mPa s, Sedangkan nilai rujukan viskositas serum pria lebih tinggi dani wanita yaitu 1 18-1 54 vs 1.19- 1.43. Pada uji korelasi bivariat didapatkan korelasi antara viskositas darah Hb (r =0.8281. p 0.000), Ht (r = 0.8358, p = 0.000), hitung enitrosit (r = 0.7454, p=0000) Sedangkan pada uji korelasi parsial setelah dilakukan kontrol terhadap Ht Hb dan entrosit didapatkan korelasi antara viskositas darah dengan log. hitung leukosit (r = 0.3694, p = 0.000), log LED (r = 0.3575, p 0 000), log. hitung trombosit (r= 0.2340, p= 0 006), log trigliserida (r = 0.3707, p = 0 000), log K total (r 0.3331, p = 0.000), K LDL (r = 0 2812, p = 0.001), protein total ( r 0 1981, p 0.021) globulin (r = 0.2598, p 0.002, log glukosa (r = 0 2462, p 0 004), asam urat (r = 0.2667, p= 0.002) dan log fibrinogen ( r = 0 4387, p = 0.000) Pada uji korelasi bivariat didapatkan korelasi antara viskositas plasma dengan log fibrinogen (r = 0.2705 p = 0.001), protein total (r= 0.2362. p = 0.005 dan globulin (r = 0.2420, p = 0.004). Pada uji korelasi bivarial didapatkan korelasi antara viskositas serum dengan protein total (r = 0.1786, p = 0.035) dan log trigliserida (r = 0.2037, p= 0.016). Pada uji regresi ganda bertahap didapatkan viskositas darah dipengaruhi oleh Ht, log hitung leukosit, log fibrinogen, albumin dan log trigliserida dengan R² persamaan 077 Pada regresi ganda bertahap didapatkan viskositas plasma dipengaruhi oleh log fibrinogen dan protein total denga R persamaan 0.11. Pada uji regresi ganda bertahap didapatkan viskositas serum hanya dipengaruhi oleh log trigliserida dengan R² persamaan hanya 0.04. Dari hasi uji korelasi tampak bahwa faktor seluler terpenting yang mempengaruhi viskositas darah adalah eritrosit (Ht, r = 0.8358) sedangkan faktor non seluler terpenting yang mempengaruhi viskositas darah adalah log fibrinogen (r = 0.4367). Faktor terpenting yang mempengaruhi viskositas plasma adalah log fibrinogen (r = 0.2705) dan faktor terpenting yang mempengaruhi viskositas serum adalah log triglisenda (r = 0.2037) Sebagai kesimpulan didapatkan korelasi yang baik antara viskositas darah dengan Ht dan Hb dan korelasi sedang antara viskositas darah dengan jumlah eritrosit. Didapatkan korelasi lemah antara viskositas darah dengan log jumlah leukosit, log LED, log jumlah trombosit. log trigliserida, log K total, K LDL, log fibrinogen, protein total, globulin, log glukosa dan asam urat. Didapatkan korelasi lemah antara viskositas plasma dengan log fibrinogen, protein total dan log traglisenda Didapatkan kontribusi Ht, log. leukosit, log fibrinogen, albumin dan log trigliserida pada viskositas darah. Didapatkan kontribusi log fibrinogen dan protein total pada viskositas plasma Didapatkan kontribusi log trigliserida pada viskositas serum."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1999
T57266
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nelson Saksono
Depok: UI Publishing, 2020
530.44 NEL t
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Nelson Saksono
Depok: UI Publishing, 2020
530.44 NEL t
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Isabelle Deli
"[ABSTRAK
Latar belakang: Neoplasma sel plasma (NSP) adalah proliferasi sel plasma neoplastik yang tumbuh soliter menjadi plasmasitoma tulang soliter (PTS) dan plasmasitoma ekstrameduler (PEM) serta multipel (MM)). Saat ini perjalanan penyakit dari plasmasitoma menjadi MM sulit diprediksi. Bartl mengklasifikasikan derajat keganasan berdasarkan histomorfologik menjadi rendah, sedang dan tinggi. Penelitian ini bertujuan menggunakan klasifikasi Bartl untuk menilai perjalanan PTS dan PEM menjadi MM dihubungkan dengan ekspresi TP53 dan Ki-67.
Bahan dan cara: Pada 32 kasus NSP yang berasal dari PTS 14 kasus, PEM 5 kasus, maupun MM sebanyak 13 kasus, diklasifikasikan menjadi 3 kelompok derajat keganasan menurut Bartl yaitu derajat keganasan ringan, sedang dan tinggi. Selanjutnya dilakukan pulasan IHK TP53 dan Ki-67 pada seluruh kasus dan dihitung persentase positifitas.
Hasil: Berdasarkan derajat keganasan, derajat rendah ditemukan pada 10 (31,2%) MM, derajat sedang pada 5 (15,6%) PTS dan derajat tinggi pada 2 (6,2%) PTS dan PEM. Peningkatan ekspresi TP53 ditemukan pada derajat Bartl yaitu median derajat rendah 4%, derajat sedang 16%, dan derajat tinggi 10%. Terdapat perbedaan ekspresi TP53 yang bermakna antara derajat keganasan rendah dan sedang (p=0,004). Rerata indeks proliferasi Ki-67 pada derajat keganasan rendah 57%, derajat sedang 44,6%, dan derajat tinggi 32,6%. Tidak ditemukan perbedaan antara indeks proliferasi Ki-67 dengan derajat keganasan menurut Bartl (p=0,339). Tidak terdapat hubungan antara ekspresi TP53, Ki-67 dengan usia. Kesimpulan: Peningkatan ekspresi TP53 pada NSP sejalan dengan peningkatan derajat keganasan Bartl, terutama pada derajat rendah dan sedang. Klasifikasi Bartl ditambah dengan pulasan TP53 saja tidak cukup untuk memprediksi perkembangan PTS dan PEM menuju MM.

ABSTRACT
Background: Plasma cell neoplasm (PCN) is a neoplastic plasma cells proliferation including solitary bone plasmacytoma (SBP) and extramedullary plasmacytoma (EMP) and multiple myeloma (MM). Until now the development of disease to MM is unpredictable. Bartl classifies the degrees of malignancy histomorphologically as low, intermediate and high. This research aims using Bartl's classification and expression of TP53 and Ki-67 to assess the development of SBP and EMP to MM.
Materials and methods: In 32 cases of PCN derived from 14 cases of SBP, 5 cases of EMP, and 13 MM case, then classified into 3 groups based on Bartl's degrees of malignancy as low, intermediate, and high. Furthermore all cases stained by IHC TP53 and Ki-67 and evaluated the percentage of positivity. Results: Bartl's low degree was found in 10 (31,2%) MM case, intermediate in 5 (15,6%) SBP and high in 2 (6,2%) SBP and EMP. TP53 expression, obtainable at 4% of low, 16% of intermediate, and 10% of high degree. There is significant difference between TP53 expression in low and intermediate degree (p = 0,004). Mean proliferation index of Ki-67 is 57% in low, 44,6% in intermediate and 32,6% in high degree. There is no significant difference of Ki-67 proliferation indexes among the group (p = 0,339). There is no correlation between expressions TP53, Ki-67 and age.
Conclusion: Increasing expression TP53 is in line with Bartl's degrees of malignancy, especially on low and inter.;Background: Plasma cell neoplasm (PCN) is a neoplastic plasma cells proliferation including solitary bone plasmacytoma (SBP) and extramedullary plasmacytoma (EMP) and multiple myeloma (MM). Until now the development of disease to MM is unpredictable. Bartl classifies the degrees of malignancy histomorphologically as low, intermediate and high. This research aims using Bartl?s classification and expression of TP53 and Ki-67 to assess the development of SBP and EMP to MM.
Materials and methods: In 32 cases of PCN derived from 14 cases of SBP, 5 cases of EMP, and 13 MM case, then classified into 3 groups based on Bartl?s degrees of malignancy as low, intermediate, and high. Furthermore all cases stained by IHC TP53 and Ki-67 and evaluated the percentage of positivity. Results: Bartl?s low degree was found in 10 (31,2%) MM case, intermediate in 5 (15,6%) SBP and high in 2 (6,2%) SBP and EMP. TP53 expression, obtainable at 4% of low, 16% of intermediate, and 10% of high degree. There is significant difference between TP53 expression in low and intermediate degree (p = 0,004). Mean proliferation index of Ki-67 is 57% in low, 44,6% in intermediate and 32,6% in high degree. There is no significant difference of Ki-67 proliferation indexes among the group (p = 0,339). There is no correlation between expressions TP53, Ki-67 and age.
Conclusion: Increasing expression TP53 is in line with Bartl?s degrees of malignancy, especially on low and inter, Background: Plasma cell neoplasm (PCN) is a neoplastic plasma cells proliferation including solitary bone plasmacytoma (SBP) and extramedullary plasmacytoma (EMP) and multiple myeloma (MM). Until now the development of disease to MM is unpredictable. Bartl classifies the degrees of malignancy histomorphologically as low, intermediate and high. This research aims using Bartl’s classification and expression of TP53 and Ki-67 to assess the development of SBP and EMP to MM.
Materials and methods: In 32 cases of PCN derived from 14 cases of SBP, 5 cases of EMP, and 13 MM case, then classified into 3 groups based on Bartl’s degrees of malignancy as low, intermediate, and high. Furthermore all cases stained by IHC TP53 and Ki-67 and evaluated the percentage of positivity. Results: Bartl’s low degree was found in 10 (31,2%) MM case, intermediate in 5 (15,6%) SBP and high in 2 (6,2%) SBP and EMP. TP53 expression, obtainable at 4% of low, 16% of intermediate, and 10% of high degree. There is significant difference between TP53 expression in low and intermediate degree (p = 0,004). Mean proliferation index of Ki-67 is 57% in low, 44,6% in intermediate and 32,6% in high degree. There is no significant difference of Ki-67 proliferation indexes among the group (p = 0,339). There is no correlation between expressions TP53, Ki-67 and age.
Conclusion: Increasing expression TP53 is in line with Bartl’s degrees of malignancy, especially on low and inter]"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nelson Saksono
Jakarta: UI-Press, 2016
PGB 0328
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>