Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4645 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Farida Salim
Bogor: Pusat Perpustakaan Pertanian dan Komunikasi Penelitian Balitbang Pertanian , 1994
631 FAR u
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
cover
"Pada (piper nigrum L ) merupakan salah satu komoditas ekspor penting bagi Indonesia
"
BUTEPER
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Farida Salim
Bogor: Pusat Perpustakaan Pertanian dan Komunikasi Penelitian Balitbang Pertanian , 1994
631 FAR u
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Ken Suratiyah
Jakarta: Penebar Swadaya, 2006
635 KEN i
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Rd. Muljadi Jusuf B. Atmasasmita
1982
S33270
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wisma Aurora Budiman
Jakarta: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1984
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Universitas Indonesia, 1984
S33236
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Universitas Indonesia, 1984
S33231
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dedi Arman
"Provinsi Kepulauan Riau dijuluki negeri segantang lada. Dalam bahasa Melayu Kepri lada disebut dengan nama sahang dan saat ini menjadi komoditas perkebunan yang kurang populer dibandingkan tanaman lain seperti karet dan kelapa sawit. Tulisan ini mengkaji usaha perkebunan lada di Kepri abad 19. Penelitian menggunakan metode penelitian sejarah yang dalam pengumpulan sumber menggunakan studi kepustakaan dan wawancara. Dari hasil penelitian, lada baru masuk ke Kepri akhir abad 18, bersamaan masuknya gambir dari Sumatra. Tahun 1787, Sultan Riau Lingga Johor Pahang, Mahmud Riayat Syah dan pengikutnya, Orang Bugis dan Melayu memindahkan pusat pemerintahan dari Pulau Bintan ke Daik Lingga untuk menghindari tekanan Belanda. Kebijakan ini juga berdampak pada usaha perkebunan lada yang ditinggalkan Orang Bugis dan Melayu. Orang Tionghoa yang semula bekerja sebagai pekerja atau kuli di perkebunan, berubah menjadi pemilik kebun. Pada abad 19, perkebunan lada diusahakan secara besar-besaran disejumlah wilayah di Kepri, seperti Bintan, Batam, Lingga dan Karimun. Lada mayoritas diekspor ke Singapura dan sebagian kecil dijual ke Pulau Jawa. Akhir abad 19 hingga awal 20 terjadi penurunan produksi lada di Kepri. Hal ini tidak terlepas dari menurunnya permintaan akibat kondisi harga lada di pasaran dunia. Para pemilik kebun lada dan sekaligus memiliki kebun gambir meninggalkan dua komoditas perkebunan tersebut. Awal abad 20, kebun lada dan gambir diganti jadi kebun karet. Selain itu, mereka masih memiliki usaha sampingan lain, seperti perkapalan dan perjudian"
Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya D.I. Yogyakarta, 2022
900 JSB 17:1 (2022)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>