Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 8666 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Bandar Seri Begawan: Alumni, 1985
R 737 KOL
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
Nani Mawarni
"Penelitian dilakukan pada mata uang Ma yang berjumlah 232 keping dan mata uang Gobog yang berjumlah 142 keping koleksi Museum Nasional Jakarta. Penelitian ini hanya membahas masalah teknologi pembuatan mata uang, khususnya mata uang Ma dan mata uang Gobog. Penyebutan mata uang dalam penelitian ini adalah karena kedua kelompok benda tersebut mengacu kepada bentuk sebuah mata uang tanpa melihat fungsinya. Di dalam dafiar inventaris Museum Nasional Jakarta, kedua kelompok mata uang tersebut disebut sebagai mata uang Ma dan mata uang Gobog. Bila diamati mata uang Ma dan mata uang Gobog koleksi Museum Nasional Jakarta memperlihatkan keragaman bentuk, ukuran, bahan, hiasan serta jejak buat. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah keragaman tersebut mengacu pada teknik pembuatan dan apakah dari perbandingan terhadap keragam itu mengacu pada perkembangan teknik pembuatan mata uang.
Untuk menjawab permasalahan tersebut digunakanlah tahap penelitian sebagai berikut: Pengumpulan data dengan studi kepustakaan dan pengamatan langsung; Pengolahan data dengan melakukan analisis terhadap bentuk, ukuran, bahan, hiasan dan teknik buatnya; Penafsiran data untuk mengetahui teknik buat dari masing-masing mata uang yang meliputi teknik pembentukan dan teknik hiasnya, serta melihat hubungan antar atribut yang diamati dengan jejak pembuatannya. Penelitian ini didukung dengan data sejarah untuk mengetahui kapan mata uang tersebut digunakan.
Hasil penelitian ini diperoleh antara lain adanya keragaman bentuk diantara mata uang Ma dan mata uang Gobog. Keragaman bahan yang digunakan, seperti emas, Perak dan tembaga untuk mata uang Ma dan kuningan, perunggu, tembaga dan timah untuk mata uang Gobog. Keragaman teknik pembentukan dengan dan tanpa cetakan untuk mata uang Ma dan teknik cetak setangkup untuk mata uang Gobog; serta keragaman teknik hias, yaitu teknik tempa satu sisi, tempa dua sisi dan teknik cetak untuk mata uang Ma dan teknik cetak saja pada mata uang Gobog. Berdasarkan data sejarah berupa prasasti diketahui mata uang Ma telah digunakan sejak abad 8 Masehi dan mata uang, Gobog digunakan pada masa kerajaan Majapahit. Bila dilihat dari masa tersebut, terlihat telah adanya perkembangan peningkatan keahlian di dalam teknik pembuatan mata uang."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1996
S11950
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Chandra Iriantiningsih
"Penelitian mengenai mata uang logam dari zaman Kesultanan Palembang dilakukan di Museum Nasional Jakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui -dan mengenali jenis-jenis mata uang berdasarkan bentuk, tulisan, ukuran, bahan, serta melihat perkembangan bentuk mata uang berdasarkan umurnya. Metode yang digunakan dalam analisis ini, yaitu metode analisis khusus (specific analysis), yang didasarkan pada ciri-ciri khusus dari seluruh atribut pada mata uang logam, seperti bentuk, ukuran, hiasan, bahan, serta keadaan fisiknya. Setelah diklasifikasi, berdasarkan atribut yang sama, kemudian dilakukan terlebih dahulu pemilahan atas dasar frekuensi (jumlah), hal ini bertujuan agar dapat diketahui jumlah sebenarnya dari mata uang yang akan diteliti dan mata uang yang tidak akan diteliti.
Dalam mengklasifikasikan mata uang logam digunakan tiga macam/jenis atribut, yaitu stylistic attributes, form attributes, dan technological attributes. Penggolongan ini dilakukan agar mata uang tersebut dapat diketahui macam/jenisnya dari mata uang yang diterbitkan oleh sultan-sultan Palembang. Selanjutnya artefak tersebut disusun secara berurutan, sehingga dapat melukiskannperkembangan bentuk. Hasil yang dicapai dari penelitian tentang mata uang logam Palembang, yaitu bahwa mata uang tersebut terdiri dari mata uang yang bertanggal dan mata uang yang tidak mempunyai tanggal. Mata uang yang bertanggal dapat diketahui nama raja-raja atau sultan-sultan yang menerbitkan mata uang tersebut berdasarkan silsilah pemerintahan sultan-sultan Palembang. Penelitian mata uang logam dilakukan dengan melihat atribut, seperti bentuk, ukuran, hiasan, dan bahan. Dengan melihat atribut tersebut dapat diketahui perkembangan artefak itu dari awal hingga akhir, walaupun kemungkinan mata uang yang diterbitkan oleh sultan-sultan sebelumnya masih berlaku (masih digunakan).
Kesimpulan dan hasil penelitian ini, yaitu bahwa mata uang logam Palembang dapat membantu penelitian tentang kronologi walaupun tidak secara mutlak. Selain itu dengan melakukan penelitian kronologi berdasarkan urutan waktu, maka dapat diketahui perkembangan bentuk artefak tersebut."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1993
S11548
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Henny Indratiningsih
"Penelitian terhadap mata uang logam Cirebon yang menjadi koleksi Museum Nasional Jakarta telah dapat dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran lengkap dari data utama, mengetahui bacaan dan arti tulisan, serta melihat kemungkinan hubungan antara keberadaan huruf Latin dan Cina pada mata uang logam Cirebon koleksi Museum nasional Jakarta dengan sejarah Cirebon.
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan terdiri atas tiga tahap. Pertama adalah pengumpulan data, terdiri atas data pustaka dan data dari pengamatan lapangan. Tahap kedua adalah pengolahan data, dengan melakukan pemerian data secara lengkap. Pada tahap ini juga dilakukan analisis dengan memakai metode klasifikasi taksonomi, yang bertujuan untuk membentuk tipe mata uang logam Cirebon ini dengan indikator sejumlah atribut. Atribut utama yang ditetapkan adalah komponen penciri utama berupa huruf, tanda dan polos. Lebih lanjut dalam tahap ketiga yaitu penafsiran data, dilakukan penafsiran data dengan cara mengidentifikasikan dan menganalogikan ciri-ciri mata uang ini dengan sumber-sumber sejarah. Deskripsi dan klasifikasi yang dilakukan menghasilkan pengelompokkan mata uang yang diteliti kedalam 3 tipe, 10 sub tipe, 11 varian dan 12 sub varian. Seluruhnya terdiri atas 25 jenis mata uang logam Cirebon koleksi museum nasional Jakarta. Atribut yang diteliti juga dibahas dalam upaya mengetahui jenis yang paling sering dan paling jarang muncul dari tiap atribut.
Dari hasil deskripsi juga diketahui gejala yang disimpulkan sebagai jejak pembuatannya. Dengan mengacu pada pengetahuan numismatik, khususnya tentang teknik pembuatan mata uang logam, maka disimpulkan bahwa mata uang yang diteliti dibuat dengan teknik cetak. tentang bahannya, hanya dapat disimpulkan berdasarkan data sejarah yang berlaku secara umum untuk seluruh mata uang logam Cirebon yang diteliti, yaitu timah dengan kadar campuran 1/5 timah (putih) dan 4/5 timah hitam. Tentang bunyi dan arti bacaan pada mata uang yang diteliti, belum semua dapat diketahui dengan penelititan ini. Diantara yang berhasil diketahui adalah huruf-huruf yang dibaca sebagai CHERIBON dan SHI TAAN JU HAU. Cheribon tersebut disimpulkan sebagai mengacu pada nama negara atau kesultanan Cirebon. Hal itu didasarkan atas keterangan Kern (1973), yaitu munculnya penulisan Cirebon dengan bentuk Cheribon di sekitar abad ke-18.
Dengan mengacu pada uraian Nestcher dan Chijs (1854), Shi Taan Ju Hau disimpulkan sebagai berikut: Shi Taan merupakan upaya penyebutan kata Sultan dalam huruf Cina. Sedangkan Ju hau merupakan bagian dari kalimat konfusius yang bermakna kebahagiaan. Pada salah satu mata uang ini tertera angka 1761. Angka tersebut disimpulkan sebagaimana juga dikatakan antara lain oleh Millies (1871) dan Wicks (1983), adalah angka tahun penerbitan mata uang tersebut. Selanjutnya, pemakaian jenis huruf latin pada mata uang logam kesultanan Cirebon disimpulkan berkaitan dengan keadaan politik di Cirebon, dimana kekuasaan Belanda ternyata tidak hanya berpengaruh pada kekuasaan politik kesultanan Cirebon, tapi juga telah berpengaruh dalam ekonomi Cirebon. Huruf Cina juga dipakai dalam mata uang Cirebon, disimpulkan karena pembuatnya memang orang Cina. Orang Cina yang dikontrak untuk membuat mata uang tersebut, memadukan pengetahuan nenek moyangnya dengan keadaan di Cirebon.
Berkaitan dengan masa pengeluaran mata uang yang diteliti, diasumsikan bahwa sebagian besar dari mata uang ini berasal dari abad ke-18. Namun demikian, muncul pula beberapa pertanyaan sejalan dengan hasil-hasil penelitian ini. Antara lain berkaitan dengan mata uang tidak berkomponen utama/polos, yaitu apakah mata uang ini dahulu pernah digunakan sebagai alat tukar atau tidak. Kemudian tentang arti dari huruf DM yang merupakan rangkaian dari CHERIBON DM, serta sebagian besar bacaan dan arti huruf-huruf Cina yang belum dapat diketahui dengan penelitian ini."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1996
S11740
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Juny Setyantari
"Penelitian mengenai mata uang logam pada masa kolonial lakukan di Museum Nasional Jakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis mata uang berdasarkan nilai, berat dan masa untuk melihat perkembangannya dari tiap-tiap masa serta mengetahui kemungkinan adanya hubungan mata uang ini dengan keadaan perekonomian pada masa tersebut. Metode yang digunakan dalam analisis ini, yaitu metode analisis khusus (specific analysis), yang didasarkan pada ciri-ciri khusus dari seluruh atribut pada mata uang logam seperti bentuk, ukuran, hiasan, bahan serta keadaan fisiknya.
Setelah diklasifikasi berdasarkan atribut yang lama, kemudian dilakukan terlebih dahulu pemilahan atas dasar frekuensi (jumlah), hal ini bertujuan agar dapat diketahui jumlah sebenarnya dari mata uang yang akan diteliti dan mata uang yang tidak akan diteliti. Kemudian mata uang ini diklasifikasi dengan menitikberatkan pada pengamatan terhadap atribut-atribut untuk membentuk tipe. Selanjutnya tipe-tipe tersebut disusun secara berurutan berdasarkan masanya untuk mengetahui jenis-jenis mata uang tersebut, sehingga dapat melukiskan perkembangan mata uang tersebut.
Hasil yang dicapai dari penelitian tentang mata uang logam Bonk, yaitu bahwa mata uang tersebut terdiri dari 3 tipe berdasarkan nilainya dimana ketiga tipe tersebut dikelompokkan berdasarkan 4 masa yang berbeda. Kemudian dapat diketahui secara lebih jelas jenis-jenis mata uang Bonk dari tiap-tiap masa tersebut hingga diketahui perkembanganya. Selain itu dapat dilihat kemungkinan hubungan mata uang ini dengan keadaan perekonomian pada masa itu.
Kesimpulan dari hasil penelitian ini, yaitu bahwa mata uang logam Bonk dapat membantu penelitian tentang kronologi walaupun tidak secara mutlak. Selain itu dengan melakukan penelitian kronologi berdasarkan urutan waktu, maka dapat diketahui perkembangan mata uang tersebut dan kemungkinan adanya hubungan mata uang Bonk dengan keadaan perekonomian pada masa itu."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1996
S11741
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Purba, Leny Marta
"Mata uang logam adalah sepotong logam yang ditentukan bentuk dan beratnya oleh pemerintah, yang memuat suatu tanda atau huruf yang tercetak di atasnya yang merupakan garansi resmi dari kebaikan dan berat logam tersebut. Sedangkan mata uang logam East India Company (EIC) adalah mata uang logam yang dicetak, dipakai dan diedarkan oleh pihak EIC selama masa pendudukannya di Indonesia.
Dalam penelitian ini digunakan metode klasifikasi taksonomi yang bertujuan untuk membentuk tipe, dan dalam tahap penafsiran data digunakan pula pendekatan sejarah terutama yang berhubungan dengan masa kekuasaan Inggris di Indonesia.
Secara garis besar, dalam penelitian ini mata uang logam EIC dideskripsi berdasarkan daerah asalnya, yaitu yang berasal dari Sumatra, Sulawesi, Maluku dan yang berasal dari Jawa. Dari hasil pengamatan, diketahui bahwa pada mata uang logam EIC yang diteliti tidak banyak terja_di perubahan. Adapun perubahan yang terjadi hanyalah dalam hal ukurannya, sedangkan dari segi bentuk tidak ada perubahan.
Dari hasil penelitian diketahui pula bahwa tiap daerah menggunakan huruf dan bahasa yang berbeda-beda, tergantung di daerah mana mata uang tersebut dipakai. Huruf Arab dengan bahasa, Melayu terdapat pada mata uang logam yang berasal dari Sumatra, huruf dan bahasa Bugis terdapat pada mata uang yang berasal dari Sulawesi, huruf dan bahasa Arab dan juga huruf dan bahasa Jawa terdapat pada mata uang logam yang berasal dari Jawa. Sedangkan mata uang yang berasal dari Maluku menggunakan huruf dan bahasa Arab.
Pemakaian huruf dan bahasa yang beragam memperlihat_kan bagaimana mata uang-mata uang tersebut dapat tersebar di wilayah-wilayah di Indonesia serta diterima oleh ma_syarakat Indonesia pada masa itu. Kemungkinan berkaitan dengan upaya perluasan wilayah oleh Inggris di Indonesia."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1997
S11597
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lia Nurlia
"Penelitian mata uang Hindia Belanda tahun 1816-1942 dilakukan dengan menggunakan data yang ada di Museum Nasional. Selain itu, digunakan Pula data pustaka yang mendukung penelitian ini. Tujuan dari penelitan ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis mata uang Hindia Belanda dan dihubungkan dengan keadaan keberadaan penguasa Hindia Belanda pada masa itu.Jenis-jenis mata uang Hindia Belanda tersebut mengalami perubahan. Perubahan tersebut terutama dapat dilihat pada tanda-tanda cetak yang tertera serta jenis tulisan yang digunakan dari waktu ke waktu. Secara keseluruhan. Jenis tulisan yang digunakan ada empat macam yaitu huruf Latin, Arab, Jawa dan Cina.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanda tempat cetak pada umumnya memiliki tanda dari Utrecht sedangkan tanda lainnya yaitu tanda yang mengepalai tempat cetak sesuai dengan tahun-tahun mereka mengepalai percetakan tersebut. Bervariasinya jenis tulisan menunjukkan bahwa yang menggunakan mata uang tersebut terdiri dari berbagai kalangan. Maksud dari, bervariasinya tulisan tersebut adalah agar dapat dimengerti oleh masing-masing pihak. Isi dari semua tulisan tersebut sama yaitu memuat tentang nilai nominal dari mata uang tersebut, pihak yang mengeluarkan, serta peraturan-peraturan dari pemerintah yang berkaitan dengan mata uang tersebut."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1996
S11781
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mohammad H. Haikal
"Pada penelitian ini dilakukan perhitungan terhadap koefisien korelasi fluktuasi nilai tukar mata uang antar negara-negara Asia Tenggara. Dari hasil perhitungan diperoleh kesimpulan bahwa nilai tukar mata uang negaranegara Asia Tenggara mayoritas berkorelasi dengan korelasi positif. Pada saat krisis moneter tahun 1998, distribusi koefisiennya bergeser kearah kanan terhadap bidang horizontal, manandakan bahwa mayoritas korelasi mereka adalah positif dan saling menguatkan.

In this research have done calculation towards correlation coefficient of exchange fluctuation between two currency in South East Asia. From calculation result obtained summary that currency exchange South East Asian Countries majority have correlation with positive correlation. On crash monetary in 1998, coefficient distribution shift to right towards horizontal, sign that majority of correlation them are positive and strong each other.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2007
S28897
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fetnayeti
"ABSTRAK
Memperahankan nilai tukar ini BI sering melakukan operasi pasar sehingga
dikhawatirkan cadangan devisa akan terkuras untuk operasi pasar tsb. Akhirnya BI
menetapkan sistem nilal tukar mengambang terkendali dengan memberikan toleransi
devaluasi rupiah terhadap US$ sebesar 3-5%.
Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui kinerja nilai tukar rupiah
terbadap mata uang negara mitra dagang utama. Negara mitra dagang utama yang
diambil adalah lima negara yaitu Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Singapura dan
China yang diambil dari laporan Litbang Depperindag.
Secara umum kinerja nilai tukar rupiah terhadap lima negara mitra dagang
utama cenderung melemah, kecuali untuk nilai tukar rupiah terbadap Rmb China
dimana nilai tukar rupiah cenderung menguat Kondisi ini terliliat dari perbandingan
hasil ramalan nilai tukar yang diperoleh dari perhitungan melalui Purchasing power
Parity (PPP) dan Interest Rate Parity (IRP) dengan nilai tukar rupiah yang
sesungguhnya terjadi di pasar. Keadaan membalik terjadi sejak tahun 1995 dimana
nilai tukar rupiah terlihat cenderung menguat terhadap US$, Yen, DM maupun dolar
Singapura.
Namun apa yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 adalah rupiah
mengalami goncangan di pasar sehingga menyebabkan kepanikan pelaku ekonomi
dan otoritas moneter di Indonesia. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi ini
telah menimbulkan rentetan penistiwa yang menimbulkan kerugian ekonomi baik
mikro maupun makro. Kondisi ini yang pada akhirnya otoritas moneter menetapkan
sistem nillai tukar mengambang dimana nilai tukar sepenuhnya diserahkan pada
kekuatan pasar.
lmplikasi dengan melemahnya rupiah terhadap mata uang asing terutama
US$ seharusnya memberikan momen yang tepat untuk meningkatkan ekspor
Indonesia. Karena salah satu permasalahan yang memperparah krisis mata uang
sekarang adalah buruknya kinerja neraca perdagangan, sedangkan cadangan devisa
merupakan kunci utama untuk mencegah kemelut mata uang.
"
1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hutomo Putera
"Penelitian ini membahas tentang pola keletakan ragam hias yang terdapat pada mata uang koin. Objek mata uang koin yang dimaksud merupakan koleksi inventarisasi milik Museum Nasional yang berasal dari periode masa klasik, yaitu koleksi mata uang ma dan gobog. Pola keletakan ragam hias yang ada menunjukkan suatu bentuk susunan dari penggunaan ragam hias pada media mata uang koin. Sementara itu bentuk ragam hias yang ada juga menunjukkan perbedaan mengenai makna hiasan dan fungsi dari kedua jenis koin tersebut.

The research discusses about the pattern in locating ornament which is found in coin as currency. The objects of coin are inventories from National Museum which comes from classic period. Those are MA and Gobog collection. The pattern in locating ornament shows the formation of the utilizing the ornament in coin. Meanwhile, the shape of ornament also shows the differentiation between the meaning of ornament and the function for both coins."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2011
S4
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>