ABSTRAKIndonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki ukuran presentase
jumlah bajakan sebesar 10% - 25%. Dengan total kerugian sebesar USS 173.6 juta pada
tahun 1999 dan US$ 187 juta pada tahun sebelumnya. Pembajakan CD musik dimulai
sejak pertengahan tahun 1995, merebaknya kasus pembajakan CD musik di Indonesia
hingga kini masih belum terselesaikan dan masih berkelanjutan. Hingga akhir tahun 1999
menurut data USTR, Amerika Serikat mengalami kerugian atas pembajakan yang berlaku
di Indonesia terhadap lagu-lagunya sebesar US$ 3 juta. Angka tersebut sudah mengalami
penurunan dari tahun 1997 yang berkisar US$ 9 juta. Penurunan angka tersebut dapat
dikarenakan sudah mulai membaiknya keadaan politik dan ekonomi di Indonesia.
Berdasarkan hasil pengolahan data terlihat bahwa faktor lokasi, Iingkungan sosial,
iklan, harga, kualitas dan kompilasi sangatlah berpengaruh bagi masyarakat atau
responden pada umumnya. Selain itu kebutuhan akan adanya kampanye atau seminar
musik tentang sisi positif membeli CD resmi juga dirasa sangat penting bagi sebagian
besar responden, dengan demikian maka akan lebih baik bila dilakukan secara intensif
kampanye atau seminar yang dilakukan oleh para musisi/artis atau tokoh masyarakat
yang tentunya sesuai dengan tempat atau segmen yang dituju. Sedangkan untuk masalah
hukum, meskipun sebagian besar responden sudah sangat mengetahuinya dan
menyatakan bahwa hukum yang berlaku tersebut sudah sangat tepat, tetapi kebiasaan
membeli CD bajakan masih tetap berlangsung, maka untuk menghadapi hal tersebut
selain diperlukan opini leader bagi masyarakat, juga diperlukan informasi yang terbaru
dan pemberian added value bagi setiap konsumen sehingga dapat menambah keyakinan
para konsumen untuk memilih dan membeli CD resmi. Dengan demikian untuk
mengatasi hal tersebut, penulis mencoba menggunakan strategi pemasaran seperti
marketing mix, pull dan push strategi dalam menghadapi kasus pembajakan ini.